Berbagi Ruang dengan Hantu

Virus dan sistem kerjanya sudah teridentifikasi dengan baik. Vaksin atau anti-virusnya sudah tersedia meskipun tidak bisa memberikan jaminan seratus persen kita akan kebal terhadap serangannya. Itulah kenapa akhirnya muncul protokol kesehatan, bukan untuk menyerang dan melawan virusnya, tapi justru untuk menghindar dari paparannya.

Sesederhana itukah? Sesungguhnya, ya. Tapi, hal kedua-lah yang memperburuk situasi dan menjadikan pandemi sebagai masalah yang semakin rumit. Ketika wabah mengupas topeng dan membuka wajah asli kita. Ketika pandemi menelanjangi dan mempertontonkan karakter-karakter asli kita.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hari-hari ini, misalnya, di sekitar kita, kita masih melihat apa yang digambarkan dalam Sampar. Orang-orang masih abai pada gejala kematian, pada gejala yang mematikan, seperti warga Oran melengos saat ada tikus mati di pinggir jalan. Dan tanpa disadari, di antara kita akhirnya menjadi pengantar kematian bagi orang-orang terdekat, bagi semakin banyak orang.

Hari-hari ini, kita juga melihat tokoh-tokoh dalam Sampar bermunculan di mana-mana. Orang-orang menjadikan wabah sebagai bahan olok-olok, lalu diubah menjadi virus kebencian, dan ditembakkan ke segala arah. Pandemi berubah menjadi kayu bakar bagi api kebencian yang makin mengobar.

Begitulah kemudian Sampar bercerita kepada kita, bahwa adakalanya pandemi atau wabah berubah menjadi pasar tempat orang berburu rente, menjadi mimbar tempat orang mengkhutbahkan ketololan dan kepalsuan, menjadi palagan bagi orang-orang yang doyan berebut kekuasaan.

Tinggalkan Balasan