Mungkin kita lupa, bahwa sebelum salat mengajari kita bermunajat, Nabi Yusuf butuh waktu puluhan tahun untuk sembuh dari pengkhianatan saudaranya. Bahwa Nabi Ya’qub menangis hingga matanya buta, tapi Allah tetap memujinya sebagai hamba yang sabar. Bahwa air mata bukan bukti gagal iman, melainkan bukti kita masih hidup.
Di negeri ini, yang diperlukan bukan lagi ceramah tentang neraka, melainkan ruang aman untuk berkata: “Aku tidak baik-baik saja,” tanpa takut dianggap pendosa.

Kita perlu mengubah cara memandang. Bukan dengan menghapus ajaran salat atau zikir, tapi dengan menambahkan pelajaran tentang mendengar. Seperti sahabat yang duduk diam menemani Nabi saat sedih, atau seperti langit malam yang diam-diam menampung tangis.
Di Jepang, ada filosofi kintsugi—memperbaiki pecahan porselen dengan emas, hingga retakannya jadi lebih indah. Mungkin Indonesia perlu kintsugi jiwa: mengakui bahwa luka itu ada, lalu merajutnya dengan benang empati, bukan mencapnya dengan stigma.
Akhir kata, jika kau sedang galau, depresi, atau merasa hidupmu berantakan: jangan izinkan siapapun menyuruhmu “tobat” hanya karena kau manusia. Allah tidak membutuhkan kesempurnaanmu. Dia yang menciptakan senja, juga tahu cara menenangkan malammu. Dan untuk kita yang mendengar keluh kesah orang lain: cukuplah menjadi bulan, bukan hakim. Tak perlu memberi solusi, cukup bisikkan: “Aku di sini.” Sebab, kadang penyembuh terbaik bukanlah kata-kata, melainkan kehadiran yang tak menghakimi—seperti langit yang tetap membiarkan awan menangis, tanpa bertanya mengapa.
- “Barangsiapa tidak menyayangi manusia, Allah tidak akan menyayanginya.” (HR. Muslim). Mari mulai dari hal kecil: mendengar, sebelum menyuruh orang lain berubah.
