Sebagai seorang santri, ada beberapa peraturan unik di pesantren yang pernah saya temui. Salah satunya adalah larangan membaca novel fiksi. Alasannya klise. Membacanya akan memengaruhi fokus belajar, sebab dalam pesantren kegiatan belajar sangat padat. Sehingga, dalam pandangan pembuat aturan, membaca novel dinilai bisa menjadi distraksi. Ia dilihat sebagai hal-hal tidak urgen selain belajar kitab dan menghafal nazam.
Alasan lain, novel sering dianggap sarat dengan cerita-cerita tak senonoh. Hal ini tentu bukan tanpa alasan tak berdasar. Karena, pernah ditemukan novel dewasa yang dibawa oleh santri tergeletak di dalam lemari. Memang, kerap kali rasa penasaran dan ingin tahu yang tinggi bisa mendorong kita untuk melakukan beberapa strategi. Barangkali larangan ini terdengar seperti pesantren menolak adanya budaya literasi. Tetapi saya memaknainya lain. Itu adalah murni usaha pihak pesantren untuk menjaga konsentrasi belajar santri.

Namun, kini larangan untuk membawa dan membaca novel kemudian bertransformasi. Yang awalnya berbentuk larangan mutlak, kemudian beberapa diperbolehkan. Dengan syarat bukan novel-novel yang berbau pronografi tentunya.
Dari Bazar Buku
Momen pergeseran peraturan ini diikuti dengan diadakannya bazar buku di pesantren tempat saya menimba ilmu. Bazar buku ini menjadi salah satu rangkaian praacara haflah akhirussanah yang menjadi agenda tahunan.
Hal tersebut membuktikan bahwa sebetulnya pesantren bukanlah institusi yang tidak sadar literasi. Buktinya, bazar buku-buku, yang beberapa di antaranya adalah novel, malah diinisiasi. Pada saat itulah saya berkenalan dengan penerbit Mata Pena. Sebuah penerbitan karya-karya sastra pop pesantren.
Beberapa judul yang masih samar-samar saya ingat adalah Jadilah Purnamaku, Ning karya Khilma Anis, Twin Ning karya Fina Az-Zahra, Santri Semelekete karya Ma’rifatun Baroroh, dan Just For U, Ustadz karya Dzakeeya Nist.
Entah mengapa bagi saya membaca sastra pop pesantren menjadi hal yang sangat menyenangkan kala itu. Mungkin karena ceritanya begitu relate dengan santri sehingga rasanya dekat sekali. Imajinasi mengenai jalannya cerita juga terbentuk sebegitu mudah. Sembari membayangkan sudut-sudut pesantren yang dihidupi setiap hari.
Tokoh-tokoh yang tentu saja berputar dari santri, pengurus, ning, gus, ustaz, pak kiai, dan ibu nyai juga membawa kita mudah menyelami transformasi vibes kepesantrenan yang dibawakan oleh penulis.
Adegan-adegan khas pesantren, seperti pinjam meminjam baju, antre kamar mandi sambil ngantuk-ngantuk, tidur di kelas ketika madrasah diniyah hingga pergolakan pertemanan khas pesantren turut menjadi warna dalam novel pop ini.
Dari Cerita ke Film
Belakangan, sastra pop pesantren terbang melalui novel Hati Suhita karya Khilma Anis. Bahkan perjalanan Hati Suhita ini telah sampai pada dunia film dan series. Khilma Anis telah berhasil membawa kisah-kisah kepesantrenan yang dipadukan dengan kentalnya budaya Jawa di depan khalayak ramai. Bukan hanya penikmat buku, namun juga sampai pada penikmat film.
Masih segar diingatan saya ketika kami, saya dan teman-teman di pesantren, bergantian membaca novel Hati Suhita. Barangkali, di pesantren yang berisi ratusan santri, kala itu tidak lebih dari lima orang yang memiliki novel ini. Alhasil, kami membacanya secara bergantian. Membuat sistem antre yang telah kami akrabi.
Bahkan, sebegitu menarik kisah yang dibawakan oleh Khilma Anis membuat salah satu senior saya yang selama hidupnya belum pernah membaca sastra sangat terkesima. Hingga ia merekomendasikan siapapun yang ia temui di pesantren. Menceritakan beberapa bagian dengan binar-binar di muka. Ia menggerakkan upaya untuk mempengaruhi orang-orang untuk membaca Hati Suhita.
Menggandrungi Literasi
Meskipun sejak usia Sekolah Dasar telah menyukai dunia membaca, dan terkadang menulis, tidak bisa memungkiri bahwa pengalaman bersentuhan dengan karya sastra pop pesantren menjadi bagian proses terpenting saya jatuh cinta berkali-kali dengan dunia literasi.
Dari pesantren pula saya kemudian belajar menulis artikel. Baik yang bersifat faktual seperti berita, menulis ulang hasil wawancara, maupun esai yang lebih menekankan kedalaman opini. Karena pesantren memberikan fasilitasi terhadap bidang tersebut. Satu di antaranya adalah program pelatihan jurnalistik dasar.
Melalui program ini pula saya kemudian bergabung dalam tim redaksi majalah pesantren. Di sana saya belajar menulis isu-isu tertentu. Isu perempuan, ekologi, hingga Islam Nusantara. Kebiasaan membaca dan menulis yang saya peroleh selama di pesantren menjadi salah satu bekal yang mengantarkan saya hingga dapat menulis artikel sampai saat ini.
Kata salah satu guru saya, menulis adalah bentuk santri meneladan jejak-jejak ulama terdahulu. Ulama adalah penulis. Buktinya adalah kitab-kitab kuning yang hingga kini menjadi rujukan utama pembelajaran di pesantren.
Saya mengamini itu. Bahwa mengabadikan pemikiran dalam tulisan bisa dikatakan menjadi sebuah keharusan. Karena dengan tulisan, gagasan akan tetap abadi. Atau bahkan barangkali menjadi hal yang akan diperdebatkan di kemudian hari.
