Sekitar seminggu lalu, saya kembali ke pesantren tempat saya menimba ilmu selama enam tahun. Sudah empat tahun saya boyong.
Gerbangnya masih sama. Aroma dapur ibu-ibu di bagian belakang dan bunyi sandal swallow yang seragam di selasar dan lorong juga sama.

Yang berbeda, dan saya baru sadar juga, adalah jumlah santri yang terasa menyusut. Hal yang sama juga terjadi di beberapa wilayah pesantren sekitar, yang juga masih termasuk dalam satu pondok yang sama.
Dalam obrolan lepas, entah siapa yang memulai, kami (saya dan teman-teman) sampai pada isu yang belakangan ramai: kekerasan seksual di pesantren, termasuk yang terekam dalam sebuah film dokumenter produksi BBC News, menjadi salah satu penyebabnya.
Pertanyaan yang menggantung dalam pembicaraan dengan seorang teman malam itu cukup sederhana: jangan-jangan karena itu kepercayaan publik pada pesantren telah menurun?
Saya ingin menjawabnya dengan hati-hati. Jawaban yang gampang ada dua. Yang pertama membela: “Itu hanya oknum, pesantren ribuan jumlahnya.” Yang kedua menghakimi: “Pesantren sudah tidak aman.” Keduanya menghindari pertanyaan yang lebih mendasar: kepercayaan itu untuk siapa?

Mohon maaf Ning, itu foto dari pesantren saya, PPP Riyadlotul Uquul Maron Purworejo mau saya jadikan cover artikel juga.. 🙏