Berpuasa, Berpuisi

Kembali lagi soal puasa dan puisi tadi, memang kita sering memisahkan hal-hal, membuat spesifikasi perbedaan, dan seterusnya. Padahal, dalam “rasa” kita seringkali ditemukan persamaan. Bukanlah kebetulan, tapi memang sejatinya segala hal terhubung kepada hati kita sehingga semua sama sekali tidak terpisah.

Itu semua adalah “laku” manusia yang berdimensi spiritual tunggal hakikatnya, atau dalam bahasa tasawufnya itu semua “perbuatan Allah” semata. Jadi sumbernya Allah, sehingga rasa kita tidak membedakannya. Tentu untuk bisa sampai memahami kepada pandangan semacam itu membutuhkan pengetahuan, pengertian, dan penghayatan yang saling berpadu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Akhirnya dengan latihan “berpuasa” itu, dengan menahan segala keinginan itu, terdapat kejernihan batin yang dapat menangkap apa saja, termasuk bahasa yang bisa dipakai dalam menuliskan puisi yang bermakna. Bahkan saking jernihnya pandangan batin, puisi yang dihasilkannya benar-benar membekas kepada pembacanya, sebutlah penyair seperti Maulana Jalaluddin Rumi, Hafiz, Fariduddin Attar, Rabi’ah Al Adawiyah, dst. Atau di Indonesia kita bisa menyebutkan penyair seperti Abdul Hadi WM, Kuswaidi Syafii, Emha Ainun Nadjib, Zawawi Imron, Gus Mus, dan sebagainya.

Singkat kata, orang yang benar-benar ber“puasa” dan ber“puisi” itu pasti bisa mempengaruhi orang lain, sebab semua itu berasal dari batinnya, dari “rasa” di mana itu adalah tempat, sekaligus perangkat yang diberikan Allah untuk kita berakrab ria dengan hadirat-Nya, melalui kebesaran, keindahan, kasih sayang Allah. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan