Akibatnya, pesan seperti “sabar dan tawakal” bisa berubah fungsi. Ia tidak lagi sekadar nasihat spiritual, tetapi perlahan menjadi semacam “rumus umum” untuk semua persoalan hidup.
Ketika dihadapkan pada realitas kemiskinan, ketimpangan sosial, atau sulitnya akses pendidikan, kalimat itu jika berdiri sendiri dapat terdengar seperti ajakan untuk menerima keadaan tanpa upaya memahami atau mengubahnya. Pada titik inilah, dakwah mengalami penyempitan makna dan bisa menjadi tidak adil.

Sebab, dalam ajaran Islam sendiri, sabar bukanlah sikap diam, tawakal bukanlah bentuk kepasrahan tanpa usaha. Keduanya justru menuntut keseimbangan antara keteguhan batin dan kerja nyata. Sabar adalah kekuatan untuk bertahan sekaligus berjuang, sementara tawakal adalah kepercayaan kepada Tuhan setelah ikhtiar dilakukan secara maksimal. Ketika dimensi ini dihilangkan, yang tersisa hanyalah bayangan ajaran bukan ajaran itu sendiri.
Masalahnya bukan berhenti pada kesalahan pemahaman individu, tetapi pada terbentuknya kesadaran kolektif yang pasif. Masyarakat yang terus-menerus menerima pesan keagamaan yang dangkal cenderung kehilangan dorongan untuk berpikir kritis. Mereka tidak diajak melihat akar persoalan, melainkan hanya diarahkan untuk mengelola dampaknya secara emosional dan spiritual.
