Bila Dakwah Tanpa Kesadaran Kritis

Dalam ruang-ruang keagamaan hari ini, baik di mimbar, televisi, maupun media sosial, kita sering mendengar kalimat yang terasa begitu akrab: “hadapi saja dengan sabar dan tawakal.”

Kalimat tersebut tidak salah. Bahkan, ia adalah bagian dari inti ajaran spiritual Islam. Namun, persoalan muncul ketika pesan yang benar tersebut disampaikan secara terpotong, tanpa kedalaman konteks dan tanpa tanggung jawab penjelasan yang utuh. Di sinilah kita perlu bersikap jernih: tidak semua kebenaran yang disampaikan menghasilkan pemahaman yang benar.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Karl Marx dalam The German Ideology mengatakan, “The ruling ideas of each age have ever been the ideas of its ruling class.” Artinya, gagasan yang dominan di masyarakat sering kali berasal dari otoritas yang kemudian diterima sebagai kebenaran tanpa kritik.

Dalam konteks dakwah, ini membuat pesan yang tidak utuh mudah menjadi kebenaran sosial, sehingga membentuk kesadaran yang pasif. Karena itu, masalah utama bukan hanya pada isi ilmu dan public speaking yang bagus, tetapi juga pada tanggung jawab dalam menyampaikannya secara utuh.

Tinggalkan Balasan