Dalam ruang-ruang keagamaan hari ini, baik di mimbar, televisi, maupun media sosial, kita sering mendengar kalimat yang terasa begitu akrab: “hadapi saja dengan sabar dan tawakal.”
Kalimat tersebut tidak salah. Bahkan, ia adalah bagian dari inti ajaran spiritual Islam. Namun, persoalan muncul ketika pesan yang benar tersebut disampaikan secara terpotong, tanpa kedalaman konteks dan tanpa tanggung jawab penjelasan yang utuh. Di sinilah kita perlu bersikap jernih: tidak semua kebenaran yang disampaikan menghasilkan pemahaman yang benar.

Karl Marx dalam The German Ideology mengatakan, “The ruling ideas of each age have ever been the ideas of its ruling class.” Artinya, gagasan yang dominan di masyarakat sering kali berasal dari otoritas yang kemudian diterima sebagai kebenaran tanpa kritik.
Dalam konteks dakwah, ini membuat pesan yang tidak utuh mudah menjadi kebenaran sosial, sehingga membentuk kesadaran yang pasif. Karena itu, masalah utama bukan hanya pada isi ilmu dan public speaking yang bagus, tetapi juga pada tanggung jawab dalam menyampaikannya secara utuh.
Akibatnya, pesan seperti “sabar dan tawakal” bisa berubah fungsi. Ia tidak lagi sekadar nasihat spiritual, tetapi perlahan menjadi semacam “rumus umum” untuk semua persoalan hidup.
Ketika dihadapkan pada realitas kemiskinan, ketimpangan sosial, atau sulitnya akses pendidikan, kalimat itu jika berdiri sendiri dapat terdengar seperti ajakan untuk menerima keadaan tanpa upaya memahami atau mengubahnya. Pada titik inilah, dakwah mengalami penyempitan makna dan bisa menjadi tidak adil.
Sebab, dalam ajaran Islam sendiri, sabar bukanlah sikap diam, tawakal bukanlah bentuk kepasrahan tanpa usaha. Keduanya justru menuntut keseimbangan antara keteguhan batin dan kerja nyata. Sabar adalah kekuatan untuk bertahan sekaligus berjuang, sementara tawakal adalah kepercayaan kepada Tuhan setelah ikhtiar dilakukan secara maksimal. Ketika dimensi ini dihilangkan, yang tersisa hanyalah bayangan ajaran bukan ajaran itu sendiri.
Masalahnya bukan berhenti pada kesalahan pemahaman individu, tetapi pada terbentuknya kesadaran kolektif yang pasif. Masyarakat yang terus-menerus menerima pesan keagamaan yang dangkal cenderung kehilangan dorongan untuk berpikir kritis. Mereka tidak diajak melihat akar persoalan, melainkan hanya diarahkan untuk mengelola dampaknya secara emosional dan spiritual.
Padahal, dakwah sejatinya bukan hanya tentang menenangkan hati, tetapi juga mencerahkan akal dan menggerakkan tindakan. Ia tidak hanya berbicara tentang bagaimana menerima takdir, tetapi juga tentang bagaimana memperjuangkan keadilan. Ketika salah satu dimensi ini hilang, dakwah berisiko menjadi alat reproduksi keadaan, bukan sarana perubahan.
Fenomena ini juga menunjukkan adanya pergeseran orientasi dalam dunia dakwah. Di satu sisi, ada tuntutan untuk menyampaikan pesan secara cepat, ringkas, dan mudah diterima. Namun, di sisi lain, ada konsekuensi yang sering diabaikan: penyederhanaan yang berlebihan dapat mengorbankan kedalaman. Dalam jangka panjang, ini bukan hanya merugikan kualitas pemahaman umat, tetapi juga melemahkan peran dakwah itu sendiri.
Karena itu, tantangan dakwah hari ini bukan sekadar bagaimana menyampaikan kebenaran, tetapi bagaimana menyampaikannya secara adil dan utuh. Sebab kebenaran yang dipotong, meskipun tetap terdengar benar, bisa kehilangan maknanya bahkan berbalik arah dari tujuan awalnya.
Maka, yang perlu dibangun kembali adalah kesadaran bahwa dakwah bukan hanya soal isi, tetapi juga cara. Bukan hanya tentang apa yang dikatakan, tetapi juga apa yang tidak dikatakan. Dan di situlah letak tanggung jawab moral seorang pendakwah: memastikan bahwa setiap pesan tidak hanya menenangkan, tetapi juga membebaskan.
