Bila Santri Galau…

Sohib terkejut, “Subhanallah, mungkin itu kekuranganku, Kang! Aku agungkan ilmu sendiri, aku agungkan, hormati, dan takdzim kepada guru-guruku. Namun, mungkin khilaf dan maksiatku membuatnya menjadi tidak barokah.”

Keduan santri senior dan junior pesantren Shirathul Fuqaha’ itu tampak termenung. Batsul masail, berdiskusi mencari nurul qalbi. Kang Salim melanjutkan, “Tinggalkan maksiat dan dosa, Hib. Aku juga masih belajar tentang itu. Ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pendosa. Ini menjadi hukum kausalitas, sunatullah…”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Insyaallah, Kang! Mungkin di pesantren ini aku bisa meminimalkan sedikit perbuatan maksiat dan dosa. Tapi, ketika kembali ngampung di rumah, di sekolah luar pondok, begitu banyak potensi kerawanan aku berbuat khilaf. Aku tak bisa membayangkan, bagaimana kehidupanku di luar pondok.”

“Maka dari itu, Hib. Selama kita masih bisa nyantri di sini kita harus sabar dan tekun untuk mencari ilmu sebagai bekal di kehidupan luar pondok nanti. Apalagi ketika terjun ke dunia kerja, dunia pekerjaan, dan berinteraksi dengan masyarakat banyak..”

Sohib terdiam sebentar. Mungkin mengingat bahwa telah banyak maksiat yang telah dilakukan. Sadar atau tidak sadar. Sengaja atau tidak. “Bagaimana cara kita menjaga dari maksiat, Kang?”

“Bidayah al Hidayah menjelaskan tujuh titik rawan manusia. Mata, telinga, lisan, perut, farji, tangan, dan kaki. Jahanam memiliki tujuh pintu dan masing-masing akan dimasuki karena maksiat dan dosa dari tujuh titik tadi. Tentu kamu paham, sebab apa-apa yang bisa menjadi perbuatan dosa dari tujuh titik tadi?”

“Iya, Kang! Lalu, perbuatan apa yang harus kita ikuti di samping menjaga diri dari maksiat, bersikap tekun, dan sabar tadi Kang?”

“Muliakan gurumu. Di samping itu muliakan buku atau kitab-kitabmu. Belajarlah atau bacalah kitab-kitabmu dalam keadaan suci. Selalu menulis setiap ilmu yang dipelajari dengan tulisan bagus dan terbaca. Jangan memakai warna merah, begitu ulama salaf menasihati. Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya.”

Suara tarkhim dari masjid dalam pesantren menggema. Ufuk timur telah mulai menggeliat. Bersiap menyongsong fajar sebelum pagi tiba. Kang Salim menyudahi diskusinya dengan Sohib.

“Sampai di sini dulu, Hib. Semoga obrolan tadi bisa sedikit memberimu optimisme kembali. Jika masih ada ganjalan, baiknya tanyalah pada ustadz-ustadzmu nanti di raudhah.”

Sohib tersenyum, “Terima kasih, Kang Salim. Sesak di dada mulai longgar. Pesimisku mulai terkikis. Aku akan lebih giat lagi, Kang. Terus belajar, mengaji, dan nyantri. Sebagai gantinya, pagi nanti Kang Salim akan kutraktir nasi pecel dan kopi di warung Mak Sum, ya…. ”

Keduanya tersenyum. Melangkah untuk bersujud menunaikan qiyamul lail dan salat fajar. Harmoni sepertiga malam dijemput.

Tinggalkan Balasan