Bila Santri Galau…

Kang Salim tersenyum. Ia sedikit lega. Sohib mulai sedikit terbuka, membuka tabir galaunya. “Kamu masih ingat riwayat Ibnu Hajar?”

“Ingat, Kang! Beliau belajar dari tetesan air yang mampu melubangi batu. Bukannya aku tergesa atau kurang bersabar, Kang. Tapi, tengoklah, teman-teman santri seangkatanku, daya hafalan, kekuatan pikiran, kepintaran baca kitab kuning, jauh di atasku, Kang,” nada suara Sohib tampak parau.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Baiklah, Musonif Kifayatul Atqiyah yang pernah aku baca, memberikan sebuah petuah bagi penuntut ilmu. Jika seorang sedang mencari ilmu, hendaknya jangan mengikuti nafsu syahwat.”

“Maksudnya, Kang Salim?”

“Bersihkan niatmu dulu, Hib! Setir hawa nafsumu. Mencari ilmu ikhlas karena Allah, bukan karena keinginan dunia. Ingin dipandang alim, ingin dihormati karena ilmu, atau apa pun yang bersifat keduniawian. Selanjutnya, jangan melupakan ilmu pokok.”

Sohib penasaran, “Ilmu pokok? Apa itu, Kang?”

“Rasul pernah merawikan, dengan bertanya kepada sahabat pencari ilmu, tentang pengetahuannya atas Allah, atas hak–hak Allah, atas kematian dan bekal untuk mempersiapkannya. Itulah ilmu pokok, ilmu yang bersifat fardlu áin.”

“Apakah yang dimaksud ilmu tauhid, Kang?”

“Benar, kamu telah mengetahuinya. Tauhid menjadi ilmu pokok, fardlu ‘ain untuk dikuasai. Sedangkan, ilmu-ilmu lain menjadi fardlu kifayah, seperti ilmu fikih, nahwu-sharaf, thabib, dan lainnya.”

Sohib mulai menemukan pencerahan, “Baiklah, ilmu tauhid akan aku utamakan. Lalu, mengapa aku sulit hafalan, sulit menerima pelajaran dari ustadz, dan sulit untuk ‘menancapkan’, sebentar saja lalu hilang.”

Kang Salim melihat wajah Sohib sebentar, ia menemukan guratan kekecewaan Sohib. Kecewa karena merasa tidak mampu mengimbangi teman-teman santri di raudhahnya.

“Imbangi dengan amalan ibadah, Hib. Selalu salat jamaah, jangan meninggalkan salat rawatib, kerjakan sunah-sunah lainnya. Dan, yang terpenting jauhi maksiat. Karena itu bisa jadi penghambat.”

Tinggalkan Balasan