Bukan saja terkait dengan makanan, hal lain pun kerap terjadi. Misalnya, jika ada santri yang sering puasa (Senin-Kamis, umpamanya), maka santri tersebut dikata-katai sebagai santri “muluk”, yang maksudnya santri yang sangat rajin dalam mendekatkan diri kepada Allah.
Lebih jauh santri itu akan diraba di berbagai bagian tubuhnya, terutama di pundak sambil berkata, “Wah, bakal sayap sudah muncul nih,” demikian mereka biasa berkelakar. Dan santri yang dirundung demikian hanya senyum-senyum kecut saja.

Satu lagi yang tidak mungkin saya lupa. Sore itu saya memasak nasi bersama teman, sebut saja namanya Latif. Tidak berapa lama saya dan Latif sudah memasak nasi, kemudian mempersiapkan lauknya. Kebetulan saat itu Latif dapat kiriman ikan kering (ikan asin?). Kemudian saya menggoreng ikan akin tersebut. Sebagaimana lumrahnya, bau ikan asin saat digoreng begitu menyengat dan terdengar hingga ke seantero lingkungan. Tentu hal ini menjadi perhatian banyak santri dengan berbagai komentar.
