Kipas angin di samping ranjang bergerak-gerak ke arah kanan dan kiri, mengirim angin ke seluruh ruangan. Suaranya bergemuruh, seperti larut dalam sebuah percakapan dengan detak jarum jam di dinding kamar. Keduanya sama-sama berperang melawan kesenyapan malam. Angin dari kipas itu menderas ke arah gorden hingga tersingkap-tertutup seterusnya membuat bulan sabit terlihat dari kaca jendela, menggoyang-goyang gelas karet tempat pensil dan spidol, menyingkap lembar-lembar buku, menerbangkan kertas dan benda ringan lainnya.
Jika arah putarnya kebetulan lurus ke arahku, rambutku terurai berantakan menyampiri wajah dan telinga, sebelum akhirnya menyerbu leher bagai wadah es ditempelkan pada kulit. Aku menggigil. Kulihat empat tombol pengatur kecepatan di tangkai kipas itu. Tombol angka 1 tertekan, itu sudah yang paling pelan, sebab di bawahnya sudah tombol off/on yang seandainya dipencet membuat kipas itu henti berputar.

Ibel—yang tidur di tengah-tengah antara aku dan istriku—terlihat sangat nyenyak. Bagai ashabul kahfi yang merindukan silir angin setelah ratusan tahun tertidur di dalam gua. Rambut tipisnya bergoyang oleh desir angin, sesekali terdengar mengorok, seakan sengaja belajar pada gemuruh kipas. Jika kipas itu kumatiakan, atau kunyalakan dalam keadaan diam tak begerak ke kanan dan ke kiri, maka Ibel akan gerah, ia akan bangun dengan sendirinya setelah menggeliat sambil menangis, peluh bertabur di keningnya. Itulah sebabnya kuabaikan kipas itu bergerak terus, mengirim angin ke seluruh ruangan, meski aku sendiri sebenarnya sangat tidak nyaman dengan kipas itu.
Melihat Ibel tidur nyenyak aku sangat bahagia.
Kebahagiaanku melihat Ibel tidur nyenyak melebihi ketidaknyamananku disembur angin. Maka kubiarkan kipas itu berputar dan bergerak demi Ibel, walaupun tak ada yang tahu bahwa angin yang merayapi tubuhku saat tidur akan menyeret dua kenangan ganjil dalam hidupku.
***
Suatu malam yang digegas rinai hujan, aku berteduh di bangunan bekas toko yang emperannya terhubung langsung ke jalan raya. Tak seorang pun ada di sana. Andai tidak ada lalu-lalang kendaraan di jalan itu mungkin aku tidak berani berteduh di tempat itu.
Aku duduk di bangku kayu tua yang salah satu kakinya sudah lenyap dikikir rayap. Di belakang punggungku, lembaran pintu kayu sepanjang tiga meter tertutup rapat. Catnya mengelupas dan sebagian dibedaki debu, coretan-coretan hitam dan kertas iklan tahun sembilan puluhan. Juga ada sarang rayap meliuk di datar kayu itu. Ujungnya persis melintasi gembok karat yang sudah berpuluh tahun tak pernah bertemu anak kunci.
Di dalam toko itu, aku tak bisa membayangkan keadaannya seperti apa, karena menurut banyak cerita, beragam kejadian aneh berasal dari dalam toko itu; sebagian orang mendengar ada tangis bayi saat dini hari, ada suara orang mengaduh, ada jeritan, suara anjing, suara geluduk benda-benda seperti tengah diadu, suara orang tertawa, dan suara gaib lainnya. Sebagian warga yang berani pernah mengecek ke dalam toko itu, tapi tak ada apa pun di dalamnya, kecuali harum kemenyan menusuk hidung.
Cerita itu membuatku merinding dan hampir saja menyalakan motor untuk pergi menerobos hujan, tapi beruntung tiba-tiba ada seorang nenek memanggul karung tergopoh-gopoh berteduh di toko itu, seluruh tubuh dan pakaiannya basah. Ia berdiri di sampingku sambil mengelap butiran air di tubuhnya, merebaklah bau amis yang cukup membuat perut mual dan terpaksa kututup hidung. Hujan terus menderas, disertai angin kencang dan sentakan petir. Kami berdua duduk terdiam. Tak saling menyapa. Nenek itu mengeluarkan barang-barang bekas dari karungnya. Aku mengira dia seorang pemulung. Tapi ada keganjilan yang kurasa, mengapa ia harus memulung di malam hari.
“Apa kamu sudah punya istri?” tanyanya tiba-tiba tanpa menolehkan wajah. Saya tak langsung menjawab, sebab siapa tahu dia hanya orang gila yang bicara sendiri. Dia mengulangi pertanyaan yang sama sambil menoleh ke arahku.
“Iya. Saya punya istri,” jawabku.
“Tapi belum punya anak, kan?”
