Biografi Kipas Angin

“Hai, Nak! Untuk apa kamu bersikeras mau membuka pintu itu?” tiba-tiba ada suara di belakang punggung. Saat kutoleh, ternyata seorang kakek penuh uban berdiri memikul keranjang bambu. Ia  tersenyum menampakkan gigi tunggalnya yang hitam.

Setelah bercakap seperlunya, kami pun duduk di emperan toko sambil merokok dan melihat lalu-lalang kendaraan. Tertawa dan bercerita. Dan tertawa lagi. Hingga kami sampai pada pembahasan tentang anak. Kami masih terus merokok dan terbahak, larut dalam obrolan yang demikian lengket di telinga, terlebih setelah kakek itu mengambil dua buah teh gelas dari keranjangnya dan menyilakanku minum. Aku pun langsung meminumnya tanpa mengecek tanggal kedaluwarsanya. Mungkin karena rasa haus yang terlalu menekan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Jabang bayi dalam rahim istrimu berjenis kelamin perempuan,” sekonyong-konyong kakek itu membahas kandungan istriku, seolah ia dukun yang pintar menebak. Aku terkejut dan keget hingga membuka bibir yang sebelumnya erat mengisap ujung sedotan.

“Kakek ini main tebak saja. Kok tahu kalau istriku hamil?”

“Aku bisa melihat dari wajahmu,” jawabnya enteng sebelum meneguk teh tanpa sedotan. Bagiku jawabannya terlalu absurd. Aku menatapnya penuh selidik.

“Bayi yang ada dalam perut istriku itu laki-laki, sebagaimana keinginanku,” aku bertingkah. Tapi kakek itu tertawa, terkekeh, matanya terpejam dan gigi tunggalnya seperti ingin copot.

“Jangan banyak tingkah, syukuri kau sudah dikarunai anak, laki-laki atau perempuan itu tidak penting, yang penting gampang saat melahirkan, istri dan anakmu selamat.”

“Amin, Kek! Doakan ya.”

“Pasti,” jawabnya tegas dan ia merogoh keranjangnya ke bagian paling dasar. Rupanya ia mengambil selembar kipas yang terbuat dari anyaman bambu, lalu diberikannya kepadaku. Aku tidak tahu apa maksudnya. Ditanya pun ia tak menjawab, hanya tersenyum. aku diam mengamati kipas itu dengan perasaan setengah heran, lalu kakek itu pamit dan masuk ke dalam toko bekas itu. Aku terperanjat dan baru sadar, ada keanehan lagi, segera kudorong pintu lapuk itu sekuat tenaga, tapi sangat kuat, kuat sekali.

***

Malam ini aku menatap Ibel tidur nyenyak di antara deru kipas angin yang berputar-putar membuatku menggigil serasa ingin muntah. Pelan-pelan aku mengeja kenangan perihal nenek dan kakek misterius di bangunan bekas toko itu. Apa yang mereka ramalkan ternyata benar, anakku perempuan dan suka pada sesuatu yang tak kusuka; kipas angin itu. Pantas saja kakek itu dulu memberiku kipas bambu, mungkin sebagai simbol kesukaan putriku.

Menurut cerita bibi, bekas toko itu dulu milik sepasang suami-istri yang anaknya mati karena si istri itu keras dan tak mau mengalah kepada anaknya. Setelah anaknya mati, ia baru sadar perbuatan kejamnya. Suami-istri itu mennginginkan anak lagi, tapi keinginan itu sia-sia, hingga keduanya mati bunuh diri di dalam toko itu karena hingga usia kakek-nenek tetap tak punya anak.

Dua hari yang lalu beredar kabar, toko tua itu terbakar hangus dan luluh lantak serata tanah. Aku membayangkan nenek dan kakek misterius yang pernah menemuiku dan masuk ke toko itu pasti mati di dalamnya. Sambil kuduga-duga, merekalah arwah pasangan suami-istri yang dulu bunuh diri di toko itu.

Tinggalkan Balasan