“Nenek kok tahu?”
Nenek itu tersenyum, tangannya terus membolak-balik sampah hasil memulungnya malam itu. Ia tak menjawab pertanyaanku.

“Sebentar lagi kamu akan punya anak, tapi kesukaan anakmu akan berseberangan dengan kesukaanmu,” nenek itu lanjut berkata saat tangannya terhenti dan matanya lurus memandangi hujan. Aku ingin merespons pernyataannya, tapi dia nyeletuk lagi.
“Mengalahlah pada kesukaan anakmu untuk hal-hal yang remeh, sebab anak itu emas. Jangan sampai kau sepertiku.”
“Lho? Memangnya nenek kenapa?” aku heran. Nenek itu tak menjawab sepatah kata pun. Ia menyimpul tali sangat erat di bagian ujung karungnya. Wajahnya seperti menahan kenangan pahit.
“Biar kuceritakan nanti saja,” jawabnya kemudian. Ia bergegas ke arah pintu toko yang lapuk. Membukanya pelan-pelan, lalu masuk dan menutup pintu itu kembali setelah melepas seuntai senyum. Pikiranku tak keruan. Ingatan terpaut pada apa yang kukatakan tadi, khawatir nenek itu tersinggung pada pertanyaanku. Beberapa menit mataku beradu tatap dengan linang air hujan yang disorot lampu dan berjatuhan memukul aspal.
“Astaga!” seketika aku merinding. Sejenak menoleh ke arah pintu itu. Apa yang baru saja kulihat sebenarnya peristiwa horor, hanya saja pikiranku tak sadar. Tak mungkin ada nenek-nenek mencari sampah di malam hari. Tak mungkin nenek itu leluasa membuka pintu yang sudah terlihat sangat lapuk dan gemboknya sudah kehilangan anak kuci. Tak mungkin ia tinggal di dalam ruangan yang sudah puluhan tahun tidak digunakan.
Aku lekas menaiki motor, menyalakannya dan melaju menerobos hujan.
***
Bulan setelah aku bercakap dengan nenek misterius itu ternyata istriku hamil. Satu hal yang terus kuingat dari pertemuan ganjil itu adalah perkataan si nenek, bahwa anak itu emas, aku harus mengalah. Hari-hari berikutnya tak ada yang mau berbicara tentang anak denganku sebagaimana nenek itu, padahal aku senang berbicara tentang anak. Aku rindu pada nenek itu meski ia misterius.
Aku ingin ia kembali membicarakan anak, tepat di saat aku menunggu kelahiran anak seperti saat ini.
Suatu pagi yang cerah, aku kembali datang ke bekas toko tua itu. Niatku hanya untuk bertemu si nenek. Setiba kaki memijak lantainya yang lusuh, aku memberanikan diri, membuka pintu lapuk walau tangan sangat gemetar dan jantung berdetak kencang menahan rasa penasaran sekaligus rasa takut. Aku mendorongnya pada bagian yang sudah pecah oleh mulut rayap, sebagaimana si nenek pada malam itu masuk dengan cara santai; hanya mendorong bagian pintu itu sekali saja tanpa membuka gembok, pintu terkuak sendiri.
Tapi pagi itu, sirap pintu lapuk sangat angkuh melawan kekuatan tanganku yang medorongnya dengan kuat. Aku mencobanya dengan dorongan yang lebih kuat lagi, tapi tetap gagal, hanya membuat napas tersengal dan keringat memburai.
