BLAGGUAN, 1993

21 Novenber 1974
Hari itu bulan berlumut
Ketika tangis seorang perempuan terpahat di langit-langit rumah
Kepala suaminya telah ditetak senjata laras panjang menuju keabadian
Suara warga desa bagai salak anjing di malam yang bacin

“Hei Sengkon!, minggat saja dari kampung ini
Kami tak sudi menghirup udara yang bercampur
Baur dengan napas keluarga pencuri”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Padahal dia hanya petani biasa
Nyawanya tertanam pada bibit padi
Dan tubuh jagung di bojongsari

Si Sengkon itu,
Ia tak tahu menahu tentang pamflet yang dipajang
Di jalan-jalan menjelang hari pemilihan
Tidak pernah pula bergaul dengan bapak kepala desa
Lalu kenapa malam itu
Segenap ABRI mengepung rumahnya
Menyodorkan senjata juga golok
Merobek kebenaran di tubuh Sengkon
Hingga ia harus terkapar atas dasar tuduhan
Yang tak menemukan kejelasan

Teater Alfatihah, 31 Januari 2024.

PALER DE LA lUNE AVEC IBADILLAH

“Ulurkan tangamu kelangit
Regut bulan yang suram itu”

Katamu di suatu malam
Saat kendaraan-kendaraan terpaksa melaju
Dan dingin udara melubangi dadaku

Aku tak pernah berminat mengubah wajah bulan
Sebab temaram hanya tercipta dalam lorong  tubuhku
Orang-orang juga tak peduli
Entah bulan redup sekalipun mati

Tinggalkan Balasan