Gaza hari ini tidak kekurangan slogan. Gaza butuh keberanian dunia untuk bersikap jujur: siapa penjajah, siapa yang dijajah. Perdamaian tidak bisa dibangun dengan menutup mata terhadap ketimpangan kekuasaan.
Indonesia selama ini dikenal konsisten membela Palestina. Sikap itu bukan sekadar politik luar negeri, tapi juga posisi moral. Maka ketika Indonesia bergabung dengan Board of Peace yang latar belakang dan kepentingannya belum jelas, kekhawatiran publik menjadi masuk akal. Jangan sampai Indonesia, yang dikenal lantang membela keadilan, justru terseret dalam proyek global yang lebih mementingkan citra daripada perubahan nyata.

Opini ini bukan ajakan untuk menolak dialog internasional. Bukan pula menutup pintu kerja sama. Tetapi sebagai santri kritis, saya percaya bahwa tidak semua yang dibungkus kata “peace” layak diterima tanpa tanya. Kritis bukan berarti anti-damai. Kritis justru bentuk tanggung jawab moral.
