Nagari Lasi terletak di sebelah utara lereng Gunung Marapi, masuk wilayah Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam. Nagari ini membawahi tiga jorong, yaitu Jorong Lasi Tuo, Lasi Mudo, dan Pasanehan. Lasi Tuo waktu itu merupakan desa dengan tingkat kemiskinan yang tinggi. Hal ini diperparah oleh rendahnya animo sebagian besar masyarakat terhadap pendidikan, sehingga secara kultural masyarakat Lasi Tuo bukanlah masyarakat yang berbudaya pendidikan dan berpikiran maju. Inilah yang melatarbelakangi berdirinya Pondok Pesantren Ashhabul Yamin pada 1992.
Pendirian pondok pesantren ini berawal dari usulan salah seorang tokoh masyarakat Lasi Tuo, Malin Bandaro Kayo, yang juga seorang ulama kondang yang pernah mengajar di bebarapa pondok di Sumatera Barat kepada Buya Zamzami Yunus. Malin Bandaro Kayo juga bersedia mewakafkan tanahnya di Jantung Dusun Lasi Tuo untuk dijadikan tempat mendirikan lembaga pendidikan.

Gayung bersambut. Buya Zamzami Yunus yang telah lama memendam cita-cita untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan di kampung halamanya akhirnya menemukan jalannya. Maka, pada 1992, Buya Zamzami berembuk dengan beberapa orang tokoh masyarakat. Dari pertemuan itu tecapailah sebuah kesepakatan untuk mendirikan lembaga pendidikan agama di Lasi Tuo. Lalu dibentulklah Yayasan Ashhabul Yamin yang diketuai oleh Suardi Mahmud sekaligus mendaftarkan Yayasan Ashhabul Yamin ke kantor Notaris dan mengurus izin pemakaian gedung Rumah Dinas Guru untuk tempat belajar sementara. Upaya tersebut mendapat apresiasi yang luar biasa dari masyarakat setempat dalam penyediaan dan pengadaan lahan untuk bangunan sekolah seluas 11.700 M.
Pada 1992/1993, dibukalah pendaftaran angkatan pertama dengan jumlah santri 19 orang dengan menerapkan sistem pendidikan salafiyah atau halaqah dan hanya terbatas pada kurikulum pondok. Materi pendidikannya berfokus pada pendalaman ilmu nahu, saraf, tafsir al-Quran, fikih, dan lain–lain. Semua diawali dengan kesederhanaan. Saat itu hanya terdapat tiga ruangan semi permanen untuk proses belajar mengajar.
