Cara Si Buta Membuat Jalan ke Surga

“Mas Toha ingat siapa Mak Jojo itu? Dia yang telah memfitnah keluarga kita dulu sebagai pencuri ketela milik Obak Sabrun. Mestinya Mas tidak perlu ikut gotong royong membuat kandang miliknya,” suara istrinya meninggi dengan intonasi yang dihentak-hentak.

“Mak Jojo memang pernah menyakiti kelurga kita, tapi tidak baik kita menyimpan dendam, tidak baik membalasnya dengan keburukan pula. Lebih baik kita maafkan dan hari ini buatlah ia menyesal dengan kebaikan-kebaikan kita. Lagi pula, gotong royong itu kan bakal membuat jalan kita ke surga,” ia menjawab dengan lembut sambil mengatur napas pelan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Huh! Itu bukan jalan ke surga, itu jalan yang goblok,” bentak istrinya bersamaan dengan suara panci yang ditaruh keras ke lantai.

“Sayang, dengar dulu…”

“Pokoknya jangan sampai Mas ikut gotong-royong itu.”

Istrinya kemudian melangkah keluar, menutup pintu agak kasar. Ia hanya menunduk, menarik dan mengeluarkan napas pelan-pelan sambil mencermati suara langkah istrinya yang menjauh.

Ia tetap tenang dan yakin kemarahan istrinya nanti akan redam dengan sendirinya. Tekadnya tetap bulat untuk ikut gotong royong membuat kandang sapi milik Mak Jojo, meski Mak Jojo pernah memfitnah keluarganya.

Saat hendak berangkat, seketika ia bingung, langkahnya tertatih mondar-mandir sambil meraba-raba tembok, lantai, meja, dan benda-benda lainnya. Wajahnya muram; tongkat kayu kesayangannya yang biasa ia taruh di belakang pintu ternyata tidak ada. Seperti ada yang sengaja memindahkan, ia menduga istrinyalah yang menyembunyikan tongkat itu.

Berkali-kali ia memanggil istrinya, tapi tak menyahut. Ia terus meraba-raba, berusaha mencari tongkat itu, tapi tetap tak menemukannya meski sudah mengelilingi ruangan dan tak lupa menelusupkan tangannya ke setiap celah yang ia raba. Ia juga tak menemukan benda lain sebagai pengganti tongkat itu. Sementara dalam dadanya, keinginan untuk ikut gotong royong tetap menggebu.

Akhirnya ia berangkat meski tanpa tongkat. Sepasang tangannya mengganti fungsi tongkat tersebut, meraba langsung benda-benda yang ada di depannya; menyentuh pohon, semak, tiang listrik, batu, tumpukan tanah dan benda lainnya.

Berjam-jam ia masih belum sampai di rumah Mak Jojo. Ia tak sadar bahwa sebenarnya dirinya telah kesasar ke arah hutan. Berkali-kali ia istirahat sambil berupaya menghilangkan rasa bingung dan berharap tujuan segera dicapai. Tapi semuanya sia-sia. Ia tetap tidak sampai di rumah Mak Jojo, malah semakin bertemu dengan medan-medan yang sulit; menapak tanah yang kadang berumput lebat dan kadang berbatu kasar.

Saat ia istirahat dengan duduk bersandar sebuah pohon, dari arah semak yang merumpun di sebelahnya, seekor ular seketika meliut lalu mematuk kakinya hingga berlumur darah. Tiba-tiba ia merasakan sekujur tubuhnya dingin membeku dan seluruh uratnya kaku. Tenaganya juga lenyap seketika. Kepalanya terasa pusing. Tubuhnya serasa diputar-putar. Pelan-pelan ia kemudian rubuh ke tanah, sejenak merasa dirinya melayang-layang di udara. Ia lalu tak ingat apa-apa. Ia tidak sadar bahwa dirinya telah melewati proses kematian yang istimewa tanpa sedikit pun teriris rasa sakit.

Dalam kematian yang indah dan tak menyakitkan itu kemudian ia merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan di dunia, sebab tiba-tiba sepasang matanya bisa melihat.

“Betapa indahnya karunia bisa melihat,” gumamnya sembari tersenyum. Yang pertama ia lihat adalah dirinya ditandu empat orang berjubah putih ke sebuah tempat yang indah. Ia berpikir, mungkin itulah surga sebagaimana yang pernah diceritakan guru ngajinya dulu.

ilustrasi: lukisan pablo picasso.

Tinggalkan Balasan