Mereka akan berpamitan kepada orang-orang yang terlibat dalam sanad keilmuannya, meski tidak semuanya. Lebih-lebih pada guru alif, guru yang sejak dini sudah mengajari moralitas/akhlak dan kajian Al-Qur’an. Meski seringkali mereka berasal dari kalangan orang biasa, namun jangan salah, guru alif memiliki “sakralitas” yang bisa saja lebih tinggi dari yang lain.
Restu dari guru-guru yang saya maksud di atas bisa jadi merupakan cara orang Madura untuk memperoleh keselamatan dalam mencari ilmu. Sebab, selanjutnya mereka akan memulai pengembaraan ilmu ke tempat yang berbeda. Restu dan izin dari guru—bisa dipastikan—menjadi jimat untuk menjadi bekal di tengah proses pengembaraan selanjutnya. Alasan lain adalah agar tidak terkesan melupakan jasa guru-guru terdahulu.

Cara unik selanjutnya adalah saat waktu keberangkatan. Orang Madura yang pada umumnya terkenal dengan kebiasaan song-osong lombhung-nya, juga tercitra dalam hal ini. Biasanya, untuk mengantarkan satu santri saja diikuti oleh beberapa rombongan, puluhan orang. Orang-orang ini biasanya berasal dari kerabat dekat/jauh dan tetangga sekitar rumah. Mereka biasanya diajak keluarga calon santri atau dengan atas inisiatif pribadi.
Sebagai orang yang rumahnya berdekatan dengan beberapa pondok pesantren, saya sering menjumpai realitas demikian. Sedikit cerita, di sebelah utara rumah saya ada salah satu pesantren kecil. Kebetulan—sekitar 5 tahun yang lalu—ada dua orang santri yang diserahkan ke kiai pengasuh untuk mondok di sana. Uniknya, rombongan yang ikut berjumlah 3 mobil (dua bak terbuka dan satu mobil pribadi). Itu hanya untuk dua orang santri saja.
Sebenarnya pemandangan itu bukan satu kali saya lihat, serambi masjid pesantren penuh dengan kerabat dan tetangga dari calon santri memang sudah ada sejak dulu. Kalau dikalkulasikan, bisa berjumlah sekitar belasan, bahkan melebihi jauh. Namun, di situ keunikannya. Citra solidaritas orang Madura tersaji dan bisa dinikmati. Wallahu a’lam…
