Catatan atas #BoikotTrans7

Memang benar, ada tradisi di beberapa pesantren yang mengajarkan santri untuk makan atau minum sambil jongkok. Tapi apakah itu sekadar formalitas semata? Tentu tidak.

Dalam perspektif pesantren, duduk jongkok saat minum merupakan latihan atas kesederhanaan. Itu bentuk riyadhah (latihan spiritual) agar santri merendahkan hati, bahkan dalam hal-hal sepele. Sebagaimana Imam Ghazali yang mengajarkan bahwa akhlak tidak dibangun sekali jadi, tetapi ditempa melalui kebiasaan kecil yang diulang.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Santri tidak sedang dipaksa tunduk, mereka hanya sedang belajar disiplin jiwa. Jika bangsa ini sering berteriak soal moral tapi sibuk membenarkan korupsi alih-alih berbicara tentang MBG, maka pesantren justru menekankan moralitas bahkan dalam segelas susu.

Lalu ketika sekelas media nasional menyuguhkan narasi yang mirip propaganda arogansi kultural, tentu memunculkan bukti bahwa sebagian media kita sudah malas berpikir, namun rakus akan sensasi! Kritik tanpa riset, satire tanpa literasi. Kalaupun benar ingin memahami pesantren, datanglah dan menginaplah di bilik santri, dengar bagaimana mereka belajar kitab sampai dini hari, kerja bakti membersihkan kamar mandi, atau mengaji dengan sabar meski perut lapar.

Refleksi Jalan Tengah

Ulama-ulama berulang kali menegaskan bahwa pesantren bukan sekadar institusi pendidikan, tapi benteng kebangsaan. KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bahkan menjadikan pesantren sebagai model demokrasi yang egaliter, terbuka, tapi tetap punya tata krama. Santri boleh debat keras, boleh kritik kiai, tapi tetap dengan adab.

Tinggalkan Balasan