Pesantren sering dipandang dengan kacamata sempit. Kedisiplinan dianggap penindasan, padahal itu latihan tanggung jawab. Penghormatan dianggap feodalisme, padahal itu adab. Pengabdian dianggap perbudakan, padahal itu cara mengendalikan ego.
Dalam Serat Wedhatama yang ada pada salah satu bait tembang “Pocung” tertulis “Ngelmu iku kalakone kanthi laku” atau dalam penyederhanaan bahwa ilmu itu hanya bisa dicapai dengan laku, dengan disiplin spiritual. Dan selama ini pesantren telah menjalankan itu. Namun ironisnya, di Indonesia, yang ditertawakan adalah para santri, kaum yang selama ini menjaga nilai, menjaga moral, bahkan menjaga Indonesia dari perpecahan.

Padahal, kalau penghormatan santri kepada kiai dianggap feodal, lalu bagaimana dengan masyarakat yang histeris berebut foto bersama artis sinetron? Bukankah itu kultus juga? Bedanya, santri mencium tangan kiai karena berharap berkah ilmu, sementara penggemar artis mencium tangan idolanya hanya demi unggahan Instagram.
Tulisan ini bukan untuk membenturkan santri dengan media. Justru sebagai bahan refleksi bersama bahwa kritik bisa bermartabat, hiburan bisa mencerdaskan, dan media bisa menjadi sahabat pesantren. Namun kalau media terus menerawakan pesantren tanpa klarifikasi, jangan salahkan bila santri angkat bicara.
Santri terbiasa belajar tawassuth (jalan tengah). Semuanya bisa mengkritik Trans7 tanpa perlu membakar kantornya. Bahkan bisa pula menegur tanpa menghina balik. Karena inti dari pesantren adalah mendidik hati agar tetap sejuk meski dicaci.
Kalau ada yang menampar wajah Anda, apakah wajar bila Anda memilih diam? Begitu juga santri. Mereka akan tetap sabar, tapi santri bukan budak hiburan.
