#BoikotTrans7: Ketika Logika Pasar Menghakimi Adab Pesantren

Framing Trans7 terhadap pesantren, yang menuai kecaman luas karena dianggap melecehkan martabat kiai dan tradisi santri, adalah fenomena sosiologis yang jauh lebih kompleks dari sekadar kesalahan jurnalistik.

Peristiwa ini merupakan benturan keras antara dua konstruksi realitas yang berbeda, yaitu logika media modern-sekuler melawan logika institusi agama tradisional. Kasus ini bisa kita tinjau secara mendalam melalui Teori Konstruksi Sosial atas Realitas ala Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, yang disandingkan dengan Teori Konflik.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Jika kita meninjau persoalan framing Trans7 terhadap pesantren dari teori tersebut, maka inti permasalahan bukanlah soal fakta, melainkan soal makna yang dilekatkan pada fakta. Praktik santri yang “ngesot” demi mencium tangan kiai dan pemberian “amplop” adalah fakta yang diamati. Namun, makna atas fakta itulah yang memicu konflik.

Di dalam komunitas pesantren, makna dari perilaku tersebut sudah kokoh melalui proses internalisasi dan kristalisasi yang panjang. Khidmah (pengabdian) dan ta’dzim (penghormatan) adalah pilar spiritual paling prominen dalam konstelasi dunia pesantren. Santri meng-eksternalisasi pandangan bahwa kiai adalah pewaris nabi (waratsatul anbiya’), pusat, dan sumber ilmu.

Tinggalkan Balasan