Seperti cerita dalam judul “Semur Warteg Kang Bahar” yang menceritakan dua orang santri yang mendorong motor dalam gelapnya malam karena terdampak ban bocor setelah mereka berdua mengambil bekal dari rumahnya. Kemudian kedua santri itu rehat sejenak di sebuah warteg milik Kang Bahar.
Awalnya mereka hanya hendak istirahat sejenak untuk meminum es teh, sebab salah satu darinya sudah bermandikan keringat. Singkat cerita, mereka berdua ditawari makan oleh Kang Bahar. Usut punya usut ternyata Kang Bahar merupakan alumni pondok Angkatan 2015 yang saat ini digunakan oleh kedua santri tersebut mengaji. Oleh karena itu, dia dengan senang hati menawarkan dan mengajak makan santri tersebut. (Hlm. 35) Dalam benak saya, “Mungkin Kang Bahar pernah di posisi seperti kedua santri itu. Sehingga ia tidak berat hati memberikan jualannya, cuma-cuma.”

Selama berada di warteg, kedua santri tersebut yang bernama Saipul dan Wawan saling berdebat disebabkan adanya keganjilan di Warteg Kang Bahar.
Pertama, adanya suara gonggongan anjing yang terdengar jelas. Kedua, daging pada semangkuk semur yang terasa hangat dalam perut. Ketiga, bercak darah di lengan baju Kang Bahar.
Kejanggalan-kejanggalan ini yang kemudian membuat mereka segera bertolak dari Warteg Kang Bahar untuk melanjutkan perjalanannya menuju pondok pesantren. Terkhusus Saipul yang lebih waspada dan curiga terhadap Warteg Kang Bahar, selama perjalanan, tatapan Saipul benar-benar kosong. (Hlm. 43)
Dari cerita di atas contohnya, penulis ingin mengajak pembaca untuk melihat potret santri yang ditampar kenyataan yang tak terduga-duga, yang mungkin tidak terbayangkan dalam pikirannya. Penulis menghadirkan keunikan santri ketika dihadapkan dengan persoalan halal-haram, senantiasa berprasangka baik kepada sesama, dilarang suudzon (prasangka buruk) terhadap yang lain. Membaca Lukisan yang Kesepian seolah-olah kita diajak penulis untuk ikut terjun dan mengalami fragmen-fragmen yang yang ada dalam ceritanya.
Antologi cerpen ini cukup recommended untuk dibaca baik dari kalangan santri maupun yang bukan dari latar belakang santri. Bagi para santri, dengan Lukisan yang Kesepian akan diajak mengarungi samudra keragaman tingkah laku seorang santri atau mengenang kembali masa-masa nyantri di pondok pesantren berikut dengan dramanya bersama teman sejawat dalam menghadapi aturan-aturan pondok. Sedangkan, bagi pembaca yang bukan dari kaum sarungan, akan diajak menonton potret santri dalam menimba ilmu dan pengetahuan di asrma pesantren. Di mana ada peraturan dan norma-norma tertentu yang harus dijalankan oleh para santri yang sifatnya mengikat dan tidak bisa diganggu gugat. Peraturan yang lebih ketat dibanding di sekolah-sekolah pada umumnya.
Cerpen berjudul “Bolehkah aku menjadi penari?” (Hlm. 113), merupakan satu dari gambaran sebuah pondok pesantren memang secara fundamental mengedepankan nilai-nilai agama, akhlak, pendidikan karakter dan berupaya untuk melahirkan generasi-generasi yang melek akan keagamaan dan budi pekerti serta akhlakul karimah.
