Cerita Optimis

“Tetapi,” lanjut si semut, “kendatipun fiksi, tidak bisakah sampean menyelinginya dengan cerita bahagia? Atau setidaknya di ujung cerita sampean yang penuh kesedihan, ada gambaran tokoh cerita sampean bakal merkoleh kebahagiaan atau paling minim tetap ada harapan ke arah sana…”

Lelaki itu tampak tertegun. Tak pernah terbayang olehnya pembaca tulisannya bakal menanggapi seperti itu, terlebih pembacanya itu seekor semut. Memang, demikian benaknya, selama ini ia menulis untuk menuangkan apa yang dipikir-rasakannya. Apabila —seperti yang dikatakan semut itu— cerita-ceritanya penuh kesedihan, tak lain karena ia merasa hidupnya penuh kesedihan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Akan tetapi, tunggu dulu, benarkah dalam hidupnya lebih banyak duka tinimbang suka? Benarkah Tuhan lebih banyak melimpahinya kesedihan tinimbang kebahagiaan?

Setelah dihitung-hitung, yang benar: lebih banyak sukanya. Setelah dihitung-hitung, yang benar: lebih banyak bahagianya.

Jika demikian, jangan-jangan, sebagai penulis, ia memang suka melebih-lebihkan kesedihannya agar pembaca—atau bila perlu seluruh dunia tahu—ia-lah—lewat ceritanya—yang paling sedih sedunia?

Pada titik ini ia jadi malu dan ingin mengaku pada semut itu. Hanya saja, begitu ia mengarahkan kembali pandangan ke arah si semut, tak lagi ia mendapatinya di situ. Apakah si semut kembali melanjutkan prosesi bunuh diri?

Buru-buru pandangannya menyapu lantai, tempat di mana sekira semut itu jatuh, akan tetapi ia tidak menemukannya. Kemudian, tepat setelah ia bertanya dalam benak akan keberadaan si semut, sebuah ide menclok di kepalanya: sebuah cerita dengan judul persis seperti cerita yang sedang sampean baca ini.

Tinggalkan Balasan