Di sinilah pentingnya ilmu komunikasi. Bagaimana seseorang menyampaikan pesan sangat memengaruhi kepercayaan publik. Sayangnya, tidak semua orang memahami ilmu ini secara utuh. Tidak semua netizen tahu bagaimana cara membedakan antara pesan yang informatif, manipulatif, atau bahkan menyesatkan. Terlebih lagi, tidak semua orang memiliki latar belakang dalam ilmu dakwah atau agama. Masyarakat awam yang hanya menerima informasi secara sepintas bisa dengan mudah mempercayai apa yang disampaikan, tanpa menyadari apakah pesan tersebut benar atau justru menyesatkan.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita sebagai pengguna media sosial menjadi lebih cerdas dan kritis. Jangan mudah terpengaruh hanya karena seseorang sering muncul di FYP atau memiliki banyak pengikut. Lihat isi pesan yang disampaikan, perhatikan adabnya, dan cari tahu latar belakang keilmuannya. Jangan sampai kita tertipu oleh “dai gadungan” yang hanya menjadikan agama sebagai konten, bukan sebagai jalan untuk mengajak manusia menuju kebaikan.

Media sosial adalah alat. Ia bisa menjadi jalan pahala, tapi juga bisa menjadi pintu fitnah. Maka bijaklah dalam menggunakannya, terutama dalam menyikapi konten dakwah. Kita semua bertanggung jawab untuk menjaga agar dakwah tetap murni, lurus, dan membawa rahmat, bukan sekadar menjadi bahan tontonan yang kehilangan arah.
