Seorang stoik akan cuek dengan kekacauan dan fokus melanjutkan hidup, sebab pikiran dan tindakan orang lain merupakan bagian dari tatanan semesta yang berada di luar kuasanya (Yosef Bilyarto, 2022: 69-71). Hal ini terlihat berseberangan dengan ayat-ayat dakwah dalam QS. Ali Imran [3]:104, QS. An-Nahl [16]125 dan lainya.
Demikian didasari oleh orientasi akhir hidup yang memang beda. Seorang stoik mengejar kebajikan sampai mati, tapi peduli akan kesan akhir dari hidupnya (Henry Manampiring, 2019: 276). Sedangkan, seorang muslim mengejar kebajikan, juga untuk kondisi sesudah mati, termasuk rasa tanggung jawab akan akhir hidup saudara muslimnya.

Justru, yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana stoikisme mampu membentuk perilaku positif, tanpa saling mengoreksi satu-sama lain. Misalnya, pada dikotomi kontrol tersebut, yakni kesadaran pada apa yang mampu dan tidak bisa ia lakukan. Sehingga hal kedua yang perlu dilakukan adalah berhenti memaksakan diri dengan menyadari keterbatasan.
Sementara, radikalisme dan ekstremisme sendiri banyak dimotori dengan cita-cita Islam sebagai kebenaran universal agama yang dinilai terlalu terburu dan seakan-akan keluar dari prinsip kuasa Tuhan yang harusnya diyakini logis dan sudah teratur. Sebagaimana kaum stoik yang teguh percaya pada kosmos (tatanan semesta) sebagai tatanan logis, sebagai kriteria hidup dengan etika dengan kodrat sebagai nilai dan batasannya.
