AYAH; GURU SALAMET YANG KERINGATNYA ADALAH DOA
barangkali, jantung tak mampu dilangkahi garis-garis
lintang kematian. setelah kupelajari doa-doa sebelum kaki
memulai langkah: ada bismillah dalam tubuh, hurufnya sebidang.

kita pernah berbincang tentang kematian di teras pada suatu malam.
di wajahmu terlihat bekas ingatan tentang kakek buyut yang mati di sihir
para pelupa kehidupan. padahal, langkahnya tak pernah patah
dari doa-doa. “ia lupa, salamet di tangan ayah dan kaki ibu,” ucapmu.
ada keringat beraroma kembang surga jatuh dari rautmu.
sepertinya hawa malam melahirkan angan, risau dan bimbang.
ingatan-ingatan sedang terhenti di tengah lagu-lagu
dangdut dari ponsel tua. ada yang mesti
disunyikan dari tanda tanya. doa-doa antara berangkat–
pulang masih tak memberkati jiwa. qulfu diheningkan di mata.
amboi, langit telah berkemas untuk menghibur diri
dengan ceracau hujan. malampun telah merebut jantung
waktu dari arah kesunyian, purnama mengingatkan tentang
hal paling terpuji. jalan pulang adalah takdir masa
lalu. di tanganmu, setapak penantian untuk kembali
membacakan doa-doa pada langkah yang terkadang pupus
di antara harapan. “keringatku, tempat doa salamet-mu, nak,
kembalilah bersama tuhan ke pundakku.”
Jate, 2024.
TERIMA KASIH
peluh yang kuyup tak pernah
menjadi air mata di tubuhku.
ada khayalan yang mengembara
pada bayang-bayang purnama.
mencipta lintasan pertemuan,
yang kerap kali lahir dari
doa-doa teggu salamet.
terima kasih, ayah, peluklah!
Jate, 2024.
KAMPUNG KITA, SURAU UNTUK KEMBALI
ada yang mesti dipertaruhkan
antara masa lalu dan jalan-
jalan berbingkai mimpi.
bayang-bayang
jalan pulang telah
terpatri pada penantian:
kembalilah dengan alif
untuk bingkai kampung kita.
Jate, 2024.
DAMAR KAMBANG
lampu api telah menyala, cahayanya
menyentuh langit-langit ingin,
menebus segala musim yang
lupa menunaikan sunyi; sembunyi.
api kesaksian telah menyala, kobarannya
menuntun setiap langkah pada sebuah
perjalanan. padam. Pertanda duka
jejak; hilang bahagia dalam harapan.
penuhi cangkèr tua itu dengan minyak
goreng. biar tak ada kecemasan pada
setiap lintasan dan kota memberi
jenaka pada tubuh-tubuh yang dinanti.
ayah, saji-saji salamet telah
dipersembahkan pada kobaran dâmar
kambâng, biar tak perlu meminta
iba pada gugur bunga di setapak kota
Jate, 2024.
PANGARO
barangkali, ayah. kecemasan
kutitipkan pada kabut dâmar
kambâng. memberi harapan
pada harum asap kemenyan. kita
adalah doa–penjuru penghambaan.
biar sejenak kuramal jalan pulang
tertutup gelap dan hari-hari di almanak
kota asing hanyalah penantian. tak perlu
risau. doa salamet telah menjadi napas
bagi dada, menjadi nadi bagi jantung,
menjadi air bagi mata. segala riuh,
menaruh semisal mimpi pada jejak
yang tersisa. “bukan air mata, anakku,
semoga pangaro masih berjejak di
tanganku.” tak ada jalan untuk
air mata, sunyi telah membaca
mantra kemarau pada dinding
kamar persinggahan. menyimpan
bulan sabit pada talase–di bawahnya.
entah pada baris ke berapa mantra
itu merapalkan nasib. bismillah,
tanganmu, harapan. kakimu keinginan.
pulang dari kematian dan penantian.
Jate, 2024.
Catatan:
Cangkèr = cangkir
Teggu = Kebal
Salamet = selamat
Dâmar Kambâng = damar berarti lampu yang keluar dari api kecil. Kambâng yang berarti mengapung. Sedangkan, Dâmar Kambâng berari lampu kecil yang berwadah mangkuk, bersumbu pintalan kapas, dan diapungkan dengan bahan bakar minyak kelapa. Dâmar Kambâng merupakan pelengkap ritual di Madura. Mati dan menyalanya Dâmar Kambâng diyakini sebagai firasat.
Pangaro = beruntung.
