DAMAR KAMBANG

AYAH; GURU SALAMET YANG KERINGATNYA ADALAH DOA

barangkali, jantung tak mampu dilangkahi garis-garis
lintang kematian. setelah kupelajari doa-doa sebelum kaki
memulai langkah: ada bismillah dalam tubuh, hurufnya sebidang.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

kita pernah berbincang tentang kematian di teras pada suatu malam.
di wajahmu terlihat bekas ingatan tentang kakek buyut yang mati di sihir
para pelupa kehidupan. padahal, langkahnya tak pernah patah
dari doa-doa. “ia lupa, salamet di tangan ayah dan kaki ibu,” ucapmu.

ada keringat beraroma kembang surga jatuh dari rautmu.
sepertinya hawa malam melahirkan angan, risau dan bimbang.
ingatan-ingatan sedang terhenti di tengah lagu-lagu
dangdut dari ponsel tua. ada yang mesti
disunyikan dari tanda tanya. doa-doa antara berangkat–
pulang masih tak memberkati jiwa. qulfu diheningkan di mata.

amboi, langit telah berkemas untuk menghibur diri
dengan ceracau hujan. malampun telah merebut jantung
waktu dari arah kesunyian, purnama mengingatkan tentang
hal paling terpuji. jalan pulang adalah takdir masa
lalu. di tanganmu, setapak penantian untuk kembali
membacakan doa-doa pada langkah yang terkadang pupus
di antara harapan. “keringatku, tempat doa salamet-mu, nak,
kembalilah bersama tuhan ke pundakku.”

Jate, 2024.

TERIMA KASIH

peluh yang kuyup tak pernah
menjadi air mata di tubuhku.
ada khayalan yang mengembara
pada bayang-bayang purnama.
mencipta lintasan pertemuan,
yang kerap kali lahir dari
doa-doa teggu salamet.
terima kasih, ayah, peluklah!

Tinggalkan Balasan