Dari Bedah Antologi Puisi MA Annuqayah

Sekitar jam 14.00 adalah acara inti, bedah buku dengan teknis penyampaian materi dari dua nara sumber dan satu pembanding. Sebelum masuk pada acara penyampaian materi, moderator, Rusdi El Umar, membacakan CV dari seluruh nara sumber. Selanjutnya, masuk kepada penyampaian materi yang pertama dari Nyai Fadhilah Mukhtar. Nyai Fadhilah yang merupakan dosen INSTIKA Annuqayah menjelaskan bahwa manusia dari sejak lahir sudah disambut dengan ragam acara sastra, khususnya puisi.

“Sejak dilahirkan hingga ajal menjemput, kita dipenuhi dengan nilai-nilai sastra, khusunya puisi.” Lebih jauh Beliau menyampaikan bahwa Islam lahir di tengah-tengah kemajuan kesusastraan. Maka tidak dapat dimungkiri bahwa kehidupan Islam berkelindan dalam perpuisian.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Masih menurut Nyai Fadhilah Mukhtar, sebenarnya setiap manusia memiliki bakat sastra dan akan semakin nampak terlihat ketika jatuh cinta. “Pada saat jatuh cinta, biasanya nilai-nilai puitika seseorang akan terlahir dengan sendirinya.”

Nyai Fadhilah Mukhtar yang lahir di Jember ini mengaku sudah berkenalan dengan puisi sejak kelas 3 SD. Mengutip pendapat Ibnu Khaldun, ia menjelaskan bahwa fungsi sastra adalah sebagai dokumentasi historis, referensi pengetahuan, dan indikasi intelektual yang tinggi.

Nara sumber berikutnya adalah Raedu Basha, sastrawan dan penulis yang kerap kali mendapatkan penghargaan dari berbagai lembaga. Ia menyampaikan bahwa Annuqayah merupakan basis dari lahirnya sastrawan. Buku Etnografi Sastra Pesantren karyanya merupakan sebuah kajian ilmiah yang penelitiannya dilakukan di PP Annuqayah.

Tinggalkan Balasan