Raedu yang merupakan pimpinan Pondok Darussalam Billapora, Ganding Sumenep, ini memaparkan bahwa nilai-nilai literasi, khususnya sastra, merupakan bagian yang tak terpisahkan bersama kehidupan itu sendiri. Maka sangat layak dan pantas jika kemudian kita berupaya membangun sastra (keindahan) baik secara lahiriyah maupun batiniyah.
Raedu yang merupakan sastrawan asal Sumenep, Madura, ini kemudian menyoroti buku yang sedang dibedah. Menurutnya, Annuqayah merupakan basis lahirnya para sastrawan. Buku yang ditulis oleh para masyaikh Annuqayah, alumni, dan santri aktif ini merupakan sebuah buku dokumenter, filologi kesusastraan, yang mengisyaratkan bahwa di sudut-sudut pondok Annuqayah terlahir sebuah karya sastra yang fenomenal. Masih menurut Raedu Basha, “Seorang ulama terindikasi dengan karya tulisnya.” Artinya, para ulama terkenal dapat dipastikan mempunyai sebuah buku atau sebuah karya tulis (baca: sastra).

Sementara itu, menurut pembanding bedah buku ini, KM Faizi, judul “1887 ” merupakan angka keramat. “Jika 86 saja (terkait dengan acara 86 di sebuah stasiun TV swasta) merupakan suatu kesiapan, maka 87 adalah puncak kesiapan itu sendiri,” katanya.
Menurut sastrawan yang sekaligus pengasuh di PP Annuqayah ini, antologi yang sebenarnya adalah buku yang sedang kita bedah kali ini. Penulisnya dari berbagai kalangan dan tema yang diusung juga beragam. “Sebuah antologi yang benar-benar heterogen,” katanya yang mengawali pembahasan dengan membaca puisi yang berjudul “Permintaanku Lebih Banyak yang Aku Ucapkan,” sebuah puisi dengan tema kekinian.
Bedah buku masih diteruskan dengan diskusi dan tanya jawab. Berikut juga diselingi dengan pembacaan puisi dari para peserta. Dari Sanggar Sareang Putri menampilkan pementasan puisi beruntun dari buku yang sedang dibedah.
