Dalam paparannya, Jamal D Rahman menegaskan bahwa buku Yusri Fajar memuat kritik sastra sebagai kritik terapan yang aplikatif, bukan sekadar wacana teoretis. Yusri Fajar, seorang dosen sastra Inggris dari Universitas Brawijaya Malang, dinilai berani menempatkan dirinya di persimpangan intelektual, yakni setia pada kerangka teori global namun berupaya menemukan gema yang hidup dalam teks dan kenyataan sastra tanah air.
Pilihan Yusri Fajar pada teori poskolonial, ekokritik, dan gastrokritik dianggap sebagai upaya strategis untuk menggeser dominasi pandangan Eropasentris yang selama ini kuat dalam kajian sastra di Indonesia.

Teori poskolonial dinilai cepat mendapat sambutan karena relevan dengan pengalaman sejarah Indonesia sebagai bangsa bekas jajahan. Teori ini menawarkan bahasa baru untuk memahami luka dan trauma kolonial, relasi kuasa, dan identitas yang terpecah-pecah dalam sastra Indonesia.
