Dari Radikalisme ke Islamofobia

Walau begitu, istilah Islamofobia menjadi populer kembali pasca pasca tragedi runtuhnya dua menara kembar World Trade Center (WTC) di New York dan Pentagon di Washington, Amerika Serikat pada 11 September 2001 tahun silam. Di Indonesia sendiri misalnya, salah satu tragedi yang menyisakan luka mendalam bagi masyarakat Indonesia secara khusus dan dunia pada umumnya, selain juga menguatkan Islamofobia di Barat adalah peristiwa pemboman terhadap tiga gereja, tepatnya di Surabaya pada tahun 2018 lalu. Walaupun, sebelumnya pernah terjadi kasus yang sama di Indonesia.

Sementara itu, kasus teranyar ihwal marak dan masifnya gerakan Islamofobia adalah yang terjadi di di kota Chemnitz, wilayah Saxony, Jerman, sebuah masjid komunitas Turki dibakar oleh orang tak dikenal. Peristiwa ini terjadi sejak Sabtu malam. Dan, masih banyak lagi kasus Islamofobia lain yang terjadi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Menurut Karen Armstrong, salah satu penyebab lahirnya Islamofobia di pelbagai belahan dunia, terutama di Barat adalah kemunculannya representasi Islam yang keras melalui fenomena terorisme, ISIS, dan paham Wahabisme yang oleh sebagian orang dianggap sebagai sebuah gerakan radikalisme yang mengatasnamakan Islam.

Padahal jika ditelisik lebih dalam lagi, Islam tidak pernah mengajarkan apalagi membolehkan melakukan tindak kekerasan. Seperti diketahui bersama bahwa Islam, merupakan agama wahyu terakhir yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad melalui perantaraan Malaikat Jibril, dengan membawa misi utama perdamaian dan rahmatan lil ‘alamin.

Artinya, secara konseptual, Islam adalah agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan secara universal, ramah, toleran, serta menjadi jalan keselamatan dan rahmat bagi setiap pemeluknya, dimanapun dan kapanpun. Tidak mengherankan, apabila Islam mengajarkan serta menekankan arti penting hidup rukun dan harmonis. Bukan sekadar terhadap umat muslim, melainkan juga antarpemeluk agama lain.

Dengan demikian, salah satu upaya melawan Islamofobia adalah dengan mencerminkan nilai-nilai islami dalam laku hidup sehari-hari. Sebab, umat muslim merupakan cermin (representasi) dari Islam itu sendiri. Artinya, bagaimana sikap dan perilaku kita, begitulah mereka (non-muslim) akan menilai Islam.

Tinggalkan Balasan