Serial Debat Akademik kali ini mengambil tema “Islam Nusantara: Perspektif Ilmu Sosial Kritis dan Post-Kolonial.” Selain Mahmud Syaltout, pemabicara lain yang hadir dalam kegiatan ini adalah Main Mudzakir (Peneliti LIPI), Masdar Hilmy (Guru besar dari UIN Sunan Ampel Surabaya), dan Tengku Kemal Pasya (dosen Universitas Malikus Saleh, Lokh Sumawe, Aceh).
“Meskipun IN menjadi wacana yang menarik diperbincangkan, namun IN juga memiliki banyak PR, karena data yang menunjukkan wacana ini kebanyakan hanya diakses oleh negara-negara lower middle income, negara yang menengah dan cenderung miskin,” demikian penjelasan Syatuth lebih lanajut.

Sementara itu, Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Amin Mudzakir menyampaikan bahwa Islam Nusantara umumnya lebih menggunakan paradigma kultural, sehingga tidak lebih luas, dan terbatas pada soal-soal yang lebih sempit. Karenanya, Islam Nusantara perlu mengkaji ruang-ruang yang belum terbuka, termasuk ruang-ruang politis. Menurut Amin, selama ini Islam Nusantara secara tidak sadar hanya berbicara sektarianisme dan radikalisme tanpa melihat konteks yang lebih luas.
Berbeda dengan keduanya, Tengku Kemal Fasya memandang istilah itu dari sudut pandang antropologis. Ia melihat bahwa istilah Islam Nusantara mengandung unsur-unsur tradisi lokal yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan, kerajaan Islam di Sumatera, Samudera Pasai, tidak berupaya melakukan mimikri terhadap kerajaan yang berkembang di dunia Timur Tengah.
