Demi Nasab

Pada hari meninggalnya suamiku, aku merasa bahwa ada kematian lain selain kematiannya. Kematian pernikahan kami. Kematian statusku sebagai istri. Kematian cintaku.

Aku menjalani sebuah pernikahan bersyarat, berpamrih. Cinta yang bersyarat dan berpamrih. Aku harus punya anak dalam pernikahanku. Sebab suamiku adalah seorang kiai. Pemimpin pesantren. Kiai harus memiliki pewaris, keturunan,  untuk meneruskan kepemimpinannya di pesantren. Seperti raja dalam sebuah istana. Ia harus memiliki putra mahkota atau seorang putri dewi. Dan ia tak mendapatkannya dariku. Istri yang sangat dicintainya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dahulu, di tahun kelima belas pernikahan kami, aku mengajak suamiku untuk mengadopsi bayi dari kerabat jauh kami.

“Aku tak mau mengadopsi sembarang bayi,” ujarnya.

“Tapi ini bukan sembarang bayi. Kita mencari anak kerabat kita. Aku juga tidak mau mengambil bayi yang tidak jelas asal usulnya. Tak jelas nasabnya.”

“Aku masih ingin menunggu anak darimu.”

Aku mengikuti keinginannya. Dan hingga di tahun kedua puluh dua pernikahan kami, aku tak juga berbuah. Aku menjadi pohon yang tak bertunas. Semacam ranggas telah memenuhi diriku sebagai ladang.

Mungkin aku egois. Aku mengajak suamiku mengadopsi bayi agar ia tak mengambil istri baru dengan alasan keturunan. Tetapi ibunya sudah lama menyarankan ia mengambil istri, bukan mengadopsi bayi. Dan di kalangan kiai, poligami adalah hal jamak. Mengikuti jejak Nabi, begitu dalih mereka. Tak peduli alasannya sungguh-sungguh atau hanya demi berahi dan validasi.

Aku tahu suamiku sangat mencintaiku. Ia menolak saran ibunya. Ia memilih menunggu meski sudah begitu lama untuk ukuran menunggu.

“Coba suruh nikah lagi,” seloroh seorang bibi dalam suatu acara silaturahmi bani-bani (pertemuan kerabat satu buyut) dari pihak suamiku.

Aku hanya tersenyum kecut. Aku tak bisa berpura-pura manis.

Entah, mungkin suamiku memiliki semacam deadline sendiri untuk masa menunggunya itu. Dan akhirnya tiba pada masa limitnya. Habis masa tenggangnya seperti paket data internet.

“Aku ingin kamu yang memilihkanku istri. Terserah kamu, siapa saja. Karena tujuanku hanya memenuhi tuntutan keluarga besar bahwa aku harus memiliki pewaris pesantren ini. Harus ada dzurriyyah asli dari garis keturunanku untuk meneruskan memimpin pesantren di kemudian hari nanti.”

Mataku panas. Tapi aku berusaha menelan air mataku. Akhirnya, pikirku. Akhirnya ia menyerah. Aku merasa bahwa cinta kami bersyarat untuk bisa terus ada dan abadi. Syaratnya harus punya anak. Jika tak punya anak, cinta itu tak ada gunanya untuk terus ada.

“Aku tidak bisa menunjuk seseorang. Kenapa harus aku yang memilih?”

“Karena aku hanya mencintai kamu. Aku tak ingin berpaling.”

Aku menangis tanpa suara. Bagaimana cinta bisa separadoks ini? Suamiku masih sangat mencintaiku dan tak ingin berpaling. Tapi ia harus membagi dirinya untuk perempuan lain atas nama penerus, atas nama keturunan yang tidak boleh putus.

Dulu aku pernah berkata padanya dengan serius. Bahwa, perempuan akan sakit hati dua kali jika suaminya menikah lagi, menambah istri karena istri pertamanya tak punya anak. Sakit hati pertama karena suami membagi cinta. Sakit hati kedua karena melihat istri kedua punya anak. Seolah itu sebuah pengumuman pada seluruh semesta bahwa istri pertama itu kurang betina. Tidak sempurna sebagai perempuan dalam kaca mata manusia kebanyakan. Mandul.

Saat itu suamiku tertawa. Dan nyatanya, apa yang kami obrolkan dulu menjadi kenyataan di kemudian hari. Yaitu saat ini.

***

Suamiku menikah lagi. Karena aku tak sudi memilihkannya istri, maka Ummi mertua, ibunya yang memilihkan untuknya. Seorang santri kami.

Ia cantik, muda, dan segar. Dan tentu ia maupun keluarganya tak akan berani menolak pinangan kiai. Kiai adalah raja bagi masyarakatnya. Segala dawuhnya dianggap titah. Apalagi ini titah langsung dari Nyai Sepuh, mertuaku.

***

Rumah kami yang besar dan megah memiliki banyak kamar tidur untuk tamu. Sering ada kerabat jauh yang menginap. Tapi kali ini tamu istimewa yang baru datang bukan untuk menginap sehari dua hari. Ia adalah santriwati yang kini sah menjadi istri suamiku.

Sebenarnya aku sudah meminta izin untuk pergi barang dua tiga hari agar suamiku leluasa berbulan madu dengan istri barunya di rumah ini. Tapi suamiku melarang.

“Kamu pemilik istana ini. Kenapa kamu harus pergi?”

Aku tak menjawab.

“Tinggallah. Jangan ke mana-mana. Sudah kukatakan berulangkali. Ini hanya untuk mendapatkan keturunan. Aku tak mencintai gadis itu. Aku mencintaimu seperti selama ini.”

Aku tak jadi pergi. Tapi bagaimana kira-kira akan kugambarkan perasaanku ketika imajinasiku melayang memikirkan suamiku ada di salah satu kamar pengantin, dalam rumah yang sama dengan yang kuhuni, dan di dalam kamar itu sedang berlangsung sebuah pesta cinta yang baru?

Untuk apa kiranya cinta tetap bercokol dalam diri seorang lelaki jika tubuh dan pikirannya sudah terbagi dengan nama lain selain istrinya? Bukankah ini semacam perselingkuhan yang disahkan secara agama dan negara?

Tahukah kamu apakah makna selingkuh itu? Selingkuh itu berpaling pada nama lain, menyeleweng. Tak peduli cinta diucapkan dengan berbusa-busa. Faktanya adalah suamiku bercumbu mesra secara sah dengan perempuan lain. Dengan istri barunya yang tak berani menatap mataku.

***

Aku memilih tak keluar kamar sama sekali. Aku tak bisa bersikap munafik dengan menampakkan ekspresi wajah biasa-biasa saja, misalnya. Para khadimah yang melayani makanku dan keperluan harianku tampak lebih menunduk dari biasanya. Seolah mereka tak sanggup melihat wajahku.

Aku memilih tak berkata apa-apa pada mereka. Pun pada mertuaku yang menjadi sutradara dari peristiwa besar ini.

“Perempuan itu takdirnya menerima nasib, tidak memiliki hak untuk tawar menawar dengan nasibnya. Bersabarlah.”

Begitulah mertuaku. Ia pun dipoligami di masa lalu. Bukan dengan santrinya seperti halnya aku hari ini. Ibu mertuaku dipoligami dengan khadimah keluarga, pelayan yang mengurusi kebutuhan sehari-hari keluarga diangkat derajatnya menjadi istri kedua kiai, yaitu Abah mertuaku. Dan ibu mertuaku menganggapku harus sama seperti dirinya, menerima takdir sebagai nasib tanpa tawar menawar lagi. Kanaah. Nrimo ing pandhum.

Untuk apa aku berbantah-bantah dengan mertuaku? Di sini aku ikut suamiku sebagai menantu tertua. Suamiku adalah putra mahkota di istana ini. Karena itulah keturunannya tidak boleh putus. Harus ada pewaris sebagai penerus. Harus memiliki dzurriyyah.

***

Entah kenapa santriwati maduku itu jarang sekali keluar kamar. Dan aku sendiri tak merasa perlu untuk mengetahui keadaan dan keberadaannya. Tak ingin bertemu ekspresi dengannya. Apakah ia merasa bersalah? Aku tak peduli. Ia juga korban di sini. Korban keegoisan orang-orang yang merasa paling tahu tentang takdir terbaik. Bahwa takdir terbaik harus punya anak jika kamu adalah permaisuri seorang raja. Jika kamu istri seorang pemimpin, kamu harus memiliki keturunan. Tidak boleh tidak.

***

“Anak ini persis Abi-nya,” ibu mertuaku membawa bayi yang baru lahir itu ke pangkuanku.

“Kamu yang harus merawatnya. Kamu ibunya.”

Aku terperangah. Bagaimana Ummi setega ini padaku dan istri suamiku yang satunya?

“Apapun yang sudah berlangsung, di rumah ini tetap kamulah menantu utama. Anak ini adalah anak suamimu. Anakmu. Kamu yang harus membesarkannya. Ia harus dibesarkan oleh seorang ibu yang nasabnya terkemuka, yaitu kamu.”

“Anak ini ada umminya sendiri, Ummi. Berdosa jika kita memisahkan kasih sayang seorang anak dengan ibunya,” kataku dengan suara bergetar.

Sungguh aku merasa emosional. Bagaimana Ummi bisa sediktator ini? Ummi menyakiti dua perempuan sekaligus, aku dan ibu anak ini. Dan Ummi adalah seorang perempuan pula. Bagaimana seorang perempuan tak melindungi hati sesama perempuan?

Aku tiba-tiba ingin bertemu gadis itu, maduku. Aku ingin mendengar suara hatinya, meski suara hatiku sendiri tak ada yang mau mendengar.

Dan suamiku? Kau ingin tahu bagaimana sikap suamiku dengan skenario baru ibunya?

“Ummi lebih tahu yang terbaik untuk kita, ikuti saja maunya. Bukankah seharusnya kamu senang jika Ummi menyuruhku menceraikan gadis itu karena keinginan keluarga ini sudah tercapai?”

Rasa-rasanya aku melihat suamiku seperti monster tak berperasaan. Ia tak punya hati. Tak menghargai perasaan dan naluri seorang perempuan, seorang ibu. Bagaimana seorang gadis muda melahirkan bayi kemudian dipisahkan dengan bayinya?

***

Aku hanya tahu gadis itu diungsikan entah ke mana. Mungkin dipulangkan ke rumah orang tuanya. Dan sudah umum bahwa keluarga masyarakat kebanyakan tak akan mudah punya keberanian untuk melawan keluarga kiai pesantren.

Aku tak sempat bicara dengan gadis itu. Aku dipaksa untuk sibuk dengan bayi baru. Bayiku, kata Ummi. Apakah Ummi berpikir bahwa menantu sahnya yang satunya itu adalah mesin produksi anak? Sebuah pabrik? Betapa tak manusiawinya jika seorang manusia yang terdiri dari tubuh dan jiwa, darah dan daging, serta hati hanya dianggap sebagai mesin pembuat anak.

***

Dan kini suamiku meninggal. Meninggalkan balita yatim dalam pengasuhanku. Lelaki mungil dalam pangkuanku ini dianggap sebagai calon penerus pesantren. Penerus kepemimpinan abahnya. Sebab semua adik suamiku adalah perempuan.

Saat ini pengasuh utama adalah Ummi mertuaku sebagai pengganti Abah yang meninggal belasan tahun lalu. Sekaligus, pengganti suamiku yang memiliki kebijakan tertinggi semasa hidup.

“Jika kamu berencana menikah lagi entah dengan siapa pun, tinggalkan anak itu di sini dan pergilah mengikuti takdirmu,” kata Ummi.

Rasanya aku ingin diam-diam pergi membawa balita ini. Meski bukan untuk menikah lagi. Agar Ummi tahu bahwa takdir bukan di tangannya.

Sumber ilustrasi: pinterest.

Tinggalkan Balasan