Flexing: Wajah Baru Kapitalisme?

Mengapa media sosial bisa mengubah cara masyarakat memandang standar kesuksesan?

Jawabannya barangkali terpampang setiap hari di layar ponsel: mobil mewah, rumah megah, tas bermerek, liburan ke luar negeri, hingga gaya hidup yang seolah tidak mengenal kata “cukup”. Semua dipertontonkan, disukai, dibagikan, lalu perlahan dinormalisasi sebagai citra keberhasilan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Logika sederhana masyarakat pun berbicara, “Toh, dia memang sudah sukses.”

Persoalannya bukan terletak pada kemewahan itu sendiri, melainkan ketika kemewahan terus-menerus dipertontonkan sebagai simbol standar kesuksesan. Akhirnya, sebagian masyarakat mulai menganggap bahwa semakin banyak yang dimiliki, semakin tinggi pula nilai seseorang.

Di sinilah budaya flexing menjadi lebih dari sekadar kebiasaan pamer. Semakin mewah sesuatu yang diperlihatkan, semakin besar rasa penasaran, kekaguman, perbandingan, bahkan keinginan untuk memiliki hal serupa. Dengan kata lain, flexing tidak hanya bekerja melalui barang yang dipamerkan, tetapi juga melalui keinginan yang ditimbulkannya.

Dari sini kita dapat melihat hubungannya dengan kapitalisme.

Secara sederhana, kapitalisme adalah sistem ekonomi yang bertumpu pada kepemilikan pribadi, kegiatan jual beli, dan pencarian keuntungan. Namun, kapitalisme tidak berhenti pada menjual barang. Ia juga terus mencari cara agar manusia mau membeli lebih banyak, salah satunya dengan menciptakan keinginan baru.

Lantas, apa hubungannya dengan flexing di media sosial?

Hubungannya adalah media sosial mempercepat semuanya. Dalam hal ini, kapitalisme bukan hanya menjual barang, tetapi juga menjual rasa kurang.

Tinggalkan Balasan