Demikianlah Hidup…

Saya tetap optimis mencari tambahan biaya dengan jalan lain. Qadarullah, walaupun menulis dengan tertatih-tatih, beberapa perlombaan berbuah manis. Mulai dari Bulan Bahasa UMY 2022, Bulan Bahasa UGM 2022, Harmoni Lestari Panji UM 2022, Pesta Daring UNJ 2022, OPCN Formadiksi UM 2022, dan beberapa lomba cipta cerpen lainnya berhasil saya menangkan.

Semangat mulai bertumbuh. Pelan-pelan mulai percaya, bahwa saya tidak seburuk yang saya pikirkan. Saya tetap bisa berprestasi dan masih bisa berjuang di tengah rasa sakit yang mendera. Tidak munafik, tujuan saya mengikuti perlombaan adalah mengincar hadiah yang kemudian bisa untuk menebus obat-obatan yang tidak dikover BPJS. Namun, terlepas dari tujuan komersial tersebut, saya mendapat benefit lain yang tak ternilai harganya berupa ketenangan batin.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Makin sering saya menulis, pelbagai pikiran yang semula membelenggu diri, perlahan menguap seiring banyak karya yang tercipta. Saya merasakan pikiran alam bawah sadar yang muncul ke permukaan menjelma suatu karya beragam tema. Dengan menulis, sampah hati berupa pikiran negatif makin menciut, dalam benak kemudian muncul pertanyaan, “setelah ini apa lagi?”

Allah Maha Baik. Barangkali benar janji-Nya, bersama kesulitan itu ada kemudahan. Saya mengalami kendala biaya, Allah tunjukkan jalan berupa perlombaan. Saya merasa terpuruk, Allah datangkan orang-orang yang tiada lelah memberikan dukungan moril maupun materiil—terkhusus rekan kuliah hingga lingkungan masyarakat sekitar. Ketika saya mengalami stres akibat gejala lupus yang sedang aktif dan terus-menerus menyerang banyak organ, Allah siapkan cara terbaik untuk mengendalikannya.

Lalu, apakah saya masih menulis? Ya, saya masih menulis. Hingga detik ini pun saya masih menulis untuk berbagi kehidupan yang pernah mengalami hantaman luar biasa, namun bisa bangkit dari keterpurukan itu. Bahkan, di saat saya terbaring di rumah sakit pun saya tetap menyempatkan diri menulis. 

Ketika orang sehat memiliki seribu permintaan, orang sakit hanya memiliki satu permintaan, yakni kesembuhan. Saya yakin, Allah pasti mendengar doa hamba-Nya. Terlebih dinding rumah sakit menjadi saksi banyaknya doa tulus yang dipanjatkan, tempat manusia lebih dekat dengan pencipta-Nya, daripada rumah ibadah manapun. Biar lupus konon tidak dapat disembuhkan, saya tetap optimis untuk mencapai kata ‘remisi’. Remisi merupakan keadaan di mana lupus dapat terkendali dan tidak menunjukkan berbagai gejala. Meski begitu, kewaspadaan akan kekambuhan di masa depan tak bisa disepelekan.

“… boleh jadi kamu membenci sesuatu tetapi ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu tetapi ia buruk bagimu, dan Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui” (Q.S Al Baqarah: 216).

Demikianlah hidup. Tidak semua akan sampai pada titik yang diharapkan. Tetapi, tidak juga membiarkan diri hanyut dalam pilunya keadaan. Beberapa ada yang mencapai tujuan, ada pula yang cukup dilepas dengan ikhlas. Hal tersebut bukan karena tidak layak untuk didapatkan, melainkan karena ada sesuatu yang lebih baik untuk kita upayakan. Setiap kita adalah pemimpin bagi dirinya. Hidup terlalu singkat jika dihabiskan untuk meratap, tanpa mau berusaha menjadi versi terbaik dalam diri kita sendiri.

Tinggalkan Balasan