Demikianlah Hidup…

Perjalanan ini tidak berhenti sampai di RSUD semata. Yogyakarta, kota yang saya impikan menjadi tempat mengejar cita dan cinta, namun di kota ini pula menjadi tempat saya memperjuangkan kesembuhan. Serangkaian pemeriksaan dilakukan untuk menegakkan diagnosis yang semula syndrome nefrotic (ginjal bocor) untuk dipastikan ada tidaknya penyakit penyerta. Hasilnya, biopsi ginjal menunjukkan tanda-tanda infeksi autoimun yang berdiang dalam tubuh saya—lupus nefritis.

Pada manusia normal, sistem kekebalan tubuh membuat antibodi yang berfungsi melindungi tubuh dari serangan virus, kuman, bakteri maupun benda asing lainnya. Akan tetapi, pada penyakit autoimun seperti lupus, sistem kekebalan kehilangan kemampuan membedakan antara benda asing dengan sel maupun jaringan tubuhnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kian hari tubuh kian melemah, merasakan nyeri sendi luar biasa, kelelahan berlebih, hingga tidak sadarkan diri selama hampir empat jam disertai kejang. Stres menjadi musuh utama penyakit ini. Apabila dilihat kondisi diri yang menunjukkan tanda pemburukan, mustahil rasanya bisa terbebas dari stres. Ditambah pula perkuliahan sering kali terbengkalai karena kondisi yang tidak memungkinkan. Krisis kepercayaan diri setelah ini bukan lagi tentang wajah dan penampilan. Pertanyaan yang semula “mengapa saya berbeda” berganti menjadi “apakah saya bisa sembuh?”

Sejenak saya rehat dari aktivitas perkuliahan. Pun, saya seolah-olah kehilangan energi untuk kembali menulis. Hidup terasa hampa. Mimpi yang saya rencanakan sedemikian rupa, kalah dengan rencana Tuhan. Biar pun banyak pihak yang memberikan dukungan, tetapi jikalau tiada keyakinan dalam diri, manalah mungkin kata ‘sembuh’ benar-benar terwujud.

Hingga, suatu ketika saya tidak sengaja mendengar keluh kesah orangtua yang membicarakan perihal biaya pengobatan. Semula, kami mengandalkan uang hasil lomba menulis cerpen yang rencananya akan saya gunakan untuk keperluan kuliah nanti. Akan tetapi, lama-kelamaan uang itu menipis jua untuk biaya pengobatan semata. Manalah mungkin sampai hati mendengar orangtua—terkhusus Ibu—yang mengutarakan rencana hendak berutang untuk biaya pengobatan anaknya. Apalagi dengan kondisi Bapak yang mengalami lumpuh selama 20 tahun—hampir setara dengan usia saya—mengharuskan Ibu untuk berjuang mencari nafkah seorang diri.

Di sinilah titik balik saya. Saya tak ingin menjadi anak egois, yang menuruti ego pribadi tanpa memikirkan penderitaan orang lain. Di sini pula, hendak tak hendak saya harus kembali ke dunia kepengarangan. Hanya itu yang bisa saya lakukan, sebab dapat dilakukan tanpa harus membahayakan kesehatan.

Bagaimana peran BPJS? Kenyataannya, tidak semua obat dikover BPJS dan mengharuskan kami menebus sendiri beberapa jenis obat. Belum lagi biaya sewa transportasi dari Pacitan ke Yogyakarta yang membutuhkan dana tidak sedikit.

Meski berat, pelan-pelan saya kembali menulis. Produktivitas melambat. Satu minggu baru selesai satu karya, begitu pun seterusnya. Tak berhenti sampai di sana, Allah kembali memberi suatu musibah berupa rusaknya laptop satu-satunya yang selama ini digunakan untuk kuliah sekaligus menelurkan karya-karya. Hendak tak hendak saya merelakan sisa tabungan untuk membeli laptop baru kelas low end. Uang di rekening benar-benar terkuras. Bahkan, hendak melakukan pembayaran kampus yang tidak terkover KIP Kuliah, saya harus mengirimkan cerpen-cerpen lama saya yang belum berkesempatan dimuat, ke media massa lain. Namun, selepas masa sulit, Allah memberikan jalan kemudahan. Cerpen-cerpen itu berhasil dimuat dalam waktu dekat dan apresiasi pemuatannya dapat terkumpul sebelum tiba hari terakhir pembayaran kuliah tersebut.

Tinggalkan Balasan