Situasi tersebut menciptakan jurang yang semakin lebar, antara mereka yang bisa sekolah dengan tenang, dan mereka yang harus menanggung kecemasan setiap awal bulan. Di dunia pendidikan yang seharusnya menyamaratakan peluang, realitanya mimpi tetap punya harga. Dan bagi banyak keluarga kecil, harga itu seringkali terlalu mahal.
Adaptasi yang Menyakitkan

Bagi banyak santri baru, malam pertama di pondok adalah malam sunyi yang terasa bising di dalam dada. Rasa asing menggantikan kenyamanan rumah, dan suara azan yang dulu akrab kini terdengar menggema dari speaker yang tak dikenal. Mereka bangun sebelum fajar, berlari ke kamar mandi bersama belasan orang, dan belajar menyesuaikan diri tanpa pelukan ibu.
Di balik canda para senior, terselip tatapan kosong santri kecil yang belum tahu harus curhat ke siapa. Tak sedikit yang diam-diam menangis di bawah selimut tipis, mencoba tegar meski tak tahu berapa lama akan bertahan. Semua berlangsung begitu cepat, tanpa banyak waktu untuk memahami bahwa hidup mereka baru saja berubah.
Sementara itu, di sekolah-sekolah, transisi juga menyisakan luka-luka kecil yang kadang tak tampak. Anak dari kota besar bertemu dengan teman dari kampung kecil, yang terbiasa gadget bertemu dengan yang baru pegang kalkulator. Aksen, gaya bicara, hingga kebiasaan makan bisa jadi bahan candaan, dan mereka yang pendiam sering tak mampu membela diri.
Masa orientasi seharusnya menjadi jembatan untuk saling mengenal, tapi kadang justru jadi pagar tinggi yang membatasi rasa nyaman. Banyak siswa dan santri yang merasa “sendirian di tengah ramai”, menahan semua dalam diam karena takut dianggap lemah. Adaptasi semestinya dibantu dengan empati, bukan dipaksa dengan tekanan.
Wajah Lain dari Masa Orientasi
