Setiap kali mendengar slogan “Pendidikan untuk Membangun Bangsa”, kita langsung mengangguk setuju, seakan frasa itu adalah doa sakral yang tak boleh digugat. Tapi, pernahkah kita bertanya: membangun bangsa yang seperti apa? Membangun seperti tukang yang menata batu bata demi rumah yang teduh, atau seperti arsitek istana asing yang tak kita pahami denahnya?
Dalam realitas pendidikan hari ini, kita dihadapkan pada dilema sunyi: apakah pendidikan membangun jembatan—yang menghubungkan dunia luar dengan nilai-nilai lokal—atau malah membangun tembok—yang menjauhkan kita dari akar sendiri? Bagaikan seseorang yang kembali dari sekolah dengan ijazah, tapi lupa jalan pulang ke rumah sendiri.

Jembatan yang baik memungkinkan lalu lintas pengetahuan lintas zaman dan budaya. Pendidikan menjadi teras rumah bersama, tempat tradisi dan modernitas bisa duduk bareng sambil menyeruput teh. Tapi tembok yang tebal dan menjulang, justru membuat anak-anak bangsa terasing di tanah sendiri. Seolah kita sedang “membangun bangsa”, tapi malah menelantarkan jiwa bangsanya.
Lihatlah kurikulum kita: begitu banyak istilah asing, akronim rumit, target kompetensi global, hingga anak-anak mulai lebih akrab dengan tokoh-tokoh dari Silicon Valley ketimbang cerita Kiai Hasyim Asy’ari. Seolah-olah pendidikan itu sedang menyiapkan kita untuk pergi, bukan untuk kembali. Apa jadinya jika bangsa besar lebih bangga jadi warga global daripada warga desa sendiri?
