Dinamika dan Tantangan NU Abad Ini

Permasalahan dari politik NU kini ialah terkait politik praktis. Ihwal politik praktis ini menjadi momok karena selalu mengendap di era kepemimpinan siapapun. Yang terbaru, PBNU viral diisukan bergerilya tendensi ke salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Alasannya ditinjau dari gelagat-gelagat yang ditunjukkan seperti, PBNU tiba-tiba melayangkan pemberhentian Ketua PWNU Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar, dari jabatannya. Yang kala itu, Kiai Marzuki belum lama habis memberikan ceramah anjuran memilih presiden. Kemudian, Sekretaris Jenderal PBNU, Gus Ipul, juga berstatemen ke awak media “jangan memilih Capres yang didukung Abu Bakar Ba‘asyir dan Amien Rais”. Meski tidak menyebutkan Capres secara spesifik, tapi rakyat sudah paham arahnya kemana.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tak kalah geger, Gus Yahya beberapa kali terlihat intens dengan Presiden Jokowi. Beliau sangat mendorong dan mendukung program-program Jokowi. Padahal kita tahu, akhir-akhir ini Jokowi disinyalir sedang berpihak ke paslon tertentu. Di sisi lain, Gus Yahya juga mengangkat ketua Lakpesdam PBNU dari seorang Menteri kabinet Indonesia Maju yang notabene saat ini juga menjadi Tim Capres-Cawapres tertentu.

Rentetan itu semua menimbulkan polemik yang dialamatkan kepada PBNU. Bahwa kini PBNU sudah tidak menjaga netralitas lagi. Maka dari itu, menjadi sebuah tantangan untuk menemukan keseimbangan yang tepat antara partisipasi aktif kebangsaan dan menjaga integritas Khittah NU. Usia yang sudah seabad, mestinya diimbangi dengan laku kedewasaan yang bijak. NU adalah organisasi umat, jangan ditunggangi sebagai kendaraan politik praktis.

Kedua, persoalan pendidikan. Pendidikan masih menjadi tantangan bagi NU. Jika dikomparasikan secara jujur dari segi kualitas, NU masih tertinggal dengan organisasi-organisasi sebelah. Di ranah perguruan tinggi, NU kalah dengan Muhammadiyah. Sedangkan ranah pendidikan dasar-menengah, NU juga belum bersaing dengan sekolah-sekolah yang mengusung konsep Islam Terpadu.

Pada proses pembenahan menuju ekosistem pendidikan yang berkualitas, kata kunci fundamentalnya yaitu gali potensi dan keunggulan yang dimiliki. Setelah itu, kolaborasi dengan berbagai pihak, baik untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik maupun sarana prasarana. Keterlibatan aktif dalam pembaharuan kurikulum dan penerapan teknologi dalam pembelajaran juga menjadi hal yang penting untuk cermati. NU telah memiliki modal kuantitas, tinggal dieksekusi melalui Lembaga Pendidikan masing-masing (LPTNU & LP Ma’arif)

Ketiga, persoalan sosioekonomi. Sosioekonomi tampaknya menjadi tantangan yang tersulit dan terumit, pasalnya dari dulu hingga kini, masih banyak kaum nahdliyyin belum beranjak ke level yang sejahtera. Di awal-awal kepengurusan Gus Yahya, ada pencanangan program kemandirian ekonomi NU. Namun hingga kini, saya belum menangkap secara menyeluruh bentuk program strategisnya seperti apa. Yang baru tahu adalah, program Koin NU.

Lagi-lagi, dalam hal filantropi, NU tertinggal jauh dengan Muhammadiyah. Ini jelas menjadi tantangan sekaligus PR tersendiri. NU harus berdikari. Para Nahdliyin harus sejahtera ekonomi keumatannya.

Bila dicermati hanya sektor keagamaan yang dinilai sudah cukup berhasil. Hal ini terbukti umatnya telah menyerap dan mengaktualisasi prinsip-prinsip ajaran NU (Islam Nusantara): tawasuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal. Dua tahun lalu NU juga menginisiasi forum Religion of Twenty (R20), sebuah pertemuan antar pemuka agama seluruh dunia untuk membahas isu-isu keagamaan internasional hingga menuju titik temu.

Tantangan yang dihadapi NU kedepannya dari sektor keagamaan mungkin lebih bagaimana mengekspor ajaran NU ke belahan dunia. Negara-negara di dunia jadi mengkoagulasi senyawa NU yang inklusif, akomodatif, dan adaptif. Tentu tidak mudah. Tapi, bila ini berhasil, tatanan dunia menjadi steril. Tak ada lagi paham-paham yang mencerai-berai, karena akan terkikis dengan sendirinya.

Dengan demikian, NU di abad kedua tidak boleh pasif. Waktunya momen ini menjadi panggung untuk mengorkestrasi, membuktikan keberlanjutan misinya dalam membentuk masyarakat yang berdaya. Tantangan bukanlah hambatan, melainkan peluang untuk terus tumbuh dan memberi kontribusi besar bagi Indonesia yang lebih baik. NU harus senantiasa bergerak dinamis–kontributif–progressif.

Tinggalkan Balasan