“Sekarang mari sama-sama kita berdoa semoga malam ini ada informasi permohonan kita dikabulkan,” demikian kata Zastrouw membesarkan hati para anggota Ganjur. “Kita berdoa, maksimal bisa diberi kesempatan pentas di pelataran, di hadapan Paus dan para jemaah yang hadir. Tapi minimal dapat undangan hadir dan mendapatkan kursi untuk melihat Paus dan prosesi audiensi umum,” lanjut Mas Haryadi, petugas kedutaan yang mendampingi kami.
Hari Selasa, agenda kegiatan Ganjur memberikan workshop bermain musik tradisional dan latihan bersama dengan teman-teman komunitas Gong Wishnuwara dari Universitas Lapienza, Roma. Workshop dan latihan dilaksanakan di Aula KBRI Vatikan. Kegiatan ini merupakan bagian dari misi Ganjur memperkenalkan seni dan budaya Nusantara di kalangan publik internasional.

Karena seharian sibuk memberikan workshop gamelan dan alat musik tradisional, ditambah dengan latihan bersama untuk kolaborasi dengan Gong Wishnuwara, maka hampir tidak ada satupun anggota Ganjur yang mengingat keinginan pentas di pelataran Basilika Santo Petrus. Kami latihan bersama hingga menjelang pukul 8 malam.
Sampai jam delapan malam belum ada informasi dari pihak Vatikan mengenai jawaban atas permohonan KBRI untuk menampilkan KI Ageng Ganjur di Basilika. Meskipun demikian, para personil tidak pupus harapan. Mereka tetap berdoa agar permohonannya melalui KBRI diterima dan dikabulkan. Beberapa anggota Ganjur ada yang mulai menurunkan ekspektasi, dari bisa tampil di pelataran Basilika menjadi sekadar diizinkan masuk ke pelataran dan duduk di kursi untuk dapat menyaksikan audiensi umum Paus Fransiskus dengan umat Katholik dan masyarakat.
Selesai latihan, seluruh anggota Ganjur ngobrol dengan para personil Gong Wishnuwara yang semuanya orang Itali. Kami ngobrol soal musik, gamelan, dan tembang-tembang Jawa.
Ketika sedang asyik ngobrol, tiba-tiba Mas Haryadi menyampaikan kabar, permohonan KBRI diterima. Ganjur tidak hanya diizinkan melihat audiensi umum, tetapi bisa pentas di pelataran Basilika. Begitu mendengar kabar dari Mas Haryadi, seluruh anggota Ganjur mengucap syukur bersamaan, “Alhamdulillaaaaah…,” teriak mereka secara reflek.
Kabar ini cukup mengejutkan sekaligus membahagiakan. Dalam waktu yang sangat mepet, doa dan harapan personil Ganjur terjawab dan dikabulkan oleh Allah. Ini artinya misi Ki Ageng Ganjur merajut perdamaian dan menyemai persaudaraan lintas iman dapat disuarakan secara lantang kepada seluruh masyarakat dunia. Seruan ini akan terdengar lebih nyaring dan bergema lebih luas karena dilakukan di forum yang sangat strategis.
