Meskipun Ganjur diperkenankan tampil di acara audiensi umum di pelataran Basilika, namun ada kendala teknis yang cukup menantang, yaitu tampilan tidak bisa menggunakan instrumen elektronik karena tidak ada aliran listrik di pelataran tempat pentas. Jadi, semuanya harus menggunakan peralatan akustik. Ini artinya hanya alat musik gamelan, gendang, suling, dan rebana yang bisa digunakan untuk mengiringi lagu yang akan dibawakan Ki Ageng Ganjur.
Kondisi ini membuat seluruh lagu yang sudah dipersiapkan harus diaransemen ulang, karena komposisi yang telah disiapkan sebelumnya kolaborasi antara musik akustik dan elektrik. Terpaksa, malam itu Ganjur membuat komposisi baru yang unsurnya hanya menggunakan instrumen akustik. Sampai hampir tengah malam baru berhasil menciptakan satu komposisi lagu Heal the World. Akhirnya, semua sepakat membawakan satu lagu, karena waktu sudah larut malam dan harus istirahat.

Ketika sedang bersiap istirahat, tiba-tiba Mas Haryadi menyampaikan bahwa sebaiknya kita siap minimal tiga lagu, untuk jaga-jaga kalau tidak ada pengisi acara lainya dan kita diminta untuk tampil lagi. Atas permintaan ini seluruh anggota Ganjur rapat dan bersepakat bangun jam empat pagi untuk bersama-sama membuat aransemen dua lagu lagi.
Menjelang jam empat pagi seluruh musisi Ganjur sudah berada di ruang auditorium KBRI untuk membuat aransemen. Dua lagu yang digarap aransemennya adalah lagu berbahasa Itali berjudul Conte Partiro dan lagu Jawa, Perahu Layar. Selain untuk mengatasi kendala teknis, pemilihan lagu ini juga didasarkan pada misi yang dibawakan. Ketiga lagu ini mengandung nilai yang sesuai dengan misi roadshow dan merepresentasikan keragaman; Barat, Itali, dan Jawa.
Meski dengan waktu dan peralatan yang sangat terbatas, tugas membuat komposisi aransemen dapat diselesaikan. Menjelang jam enam pagi, seluruh komposisi lagu sudah jadi. Satu per satu lagu dan komposisinya kemudian dicoba dimainkan. Alhamdulillah, proses membuat aransemen berjalan lancar. Setelah itu seluruh anggota Ki Ageng Ganjur langsung bersiap berangkat ke pelataran Basilika Santo Petrus untuk melaksanakan tugas dan misi dalam acara yang sangat monumental dan spektakuler.
Karena keterbatasan waktu, seluruh personil Ki Ageng Ganjur berbagi tugas. Sebagian ada yang mandi, sebagian sarapan pagi, dan sebagian lagi beres-beres alat yang akan dibawa ke Lapangan Basilika. Semua dilakukan secara bergantian. Ketika yang mandi selesai, mereka langsung angkat alat ke mobil. Yang sudah selesai sarapan langsung mandi. Yang selesai mengangkut alat pindah melaksanakan sarapan pagi. Begitu seterusnya sehingga dalam waktu singkat seluruh pekerjaan dapat diselesaikan dan siap berangkat.
Tepat pukul 07.00 rombongan Ki Ageng Ganjur didampingi Duta Besar RI Untuk Takhta Suci Vatikan, Bapak Michael Trias Kuncahyono, berangkat menuju pelataran Basilika Santo Petrus. Sulit menggambarkan perasaan personil Ganjur saat berangkat dari KBRI. Bahagia, senang, dan khawatir bercampur menjadi satu. Mereka bahagia dan senang karena doanya dikabulkan Allah, khawatir dan deg-degan karena akana tampil di event yang spektakuler dan monumental.
