Dokter Liem

“Eh, ada yang dating,” kejut Pak Dayat setelah melihat mobil sedan warna hitam berplat nomor warna merah mendekat. Rupanya anggota DPRD yang menjadi pemrakarsa dari proyek poliklinik ini.

“Assalamualaikum bapak-bapak. Saya mau meninjau bangunan ini. Bolehkah saya ditemani?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Semua berdelapan tidak menjawab. Gusar, karena memikirkan gaji atau jumlah tenaga yang dikurangi. Anggota DPRD itu tampak bingung, karena tidak ada yang menanggapinya. Maka Pak Dayat memberanikan diri.

“Waalaikumsalam, Pak! Begini, saya tadi mendengar dari dokter Liem yang sekarang lagi rapat di kabupaten. Tentang proyek ini, apakah benar gaji kami akan dikurangi atau jumlah tenaga yang dikurangi?”

Dengan wibawanya, anggota DPRD itu pun tersenyum, seolah mengerti kesulitan mereka dan mampu memecahkannya.

“Lo-lo, itu tidak benar. Pembangunan poliklinik ini tetap diteruskan. Gaji tidak ada yang dikurangi. Jumlah pekerja juga tidak. Semua tetap, kalau mungkin ditambah. Asal mengikuti dan menuruti kemauan saya.”

Delapan orang tukang dan kuli semuanya terperanjat. Sejak saat itu muncul desas-desus kalau dokter Liem yang menggelapkan uang, koruptor. Sebagian warga desa tampak terpengaruh, tetapi ada juga yang tidak. Lik Sigit dan Bulik Sri ikut dalam mosi ketidakpercayaannya.

Sampai suatu malam, sebuah mediasi dilakukan warga dengan dokter Liem. Grusa-grusu, mudahnya termakan omongan orang, dan iming-iming tambahan gaji, menjadi awal tidak munculnya titik temu. Keterangan dokter Liem tidak diterima. Maka, berdasarkan keputusan malam itu, dokter Liem harus pindah dan Pak Lurah diminta segera mencari penggantinya yang baru.

Lik Sigit sedih mendengarnya. Dokter Liem yang tengah bersiap meninggalkan desa, pamit kepada Lik Sigit dan Bulik Sri, “Saya minta maaf atas segalanya. Lik Sigit dan Bulik Sri boleh percaya atau tidak. InsyaAllah, nanti akan terlihat siapa yang salah, siapa yang benar. Saya pamit.”

Lik Sigit dan Bulik Sri tak kuat menahan haru. Dokter Liem yang jelas-jelas berbakti mengabdi pada desa yang bukan tempat kelahirannya, harus terusir, bukan karena profesi atau kekhilafan dari keahliannya, ini di luar kapasitas dokter Liem, yang minim pengetahuan tentang birokrasi dan politik.

Begitulah, semenjak itu pengawasan pembangunan Poliklinik dua lantai diawasi langsung oleh anggota DPRD tersebut, yang ditemui Pak Dayat waktu lalu.

Tampak dua truk pembawa bahan bangunan, semen, pasir, besi, dan beberapa material lainnya sudah tiba dan menunggu untuk diturunkan. Segera, Pak Dayat dan beberapa kawan kuli lainnya membantu menurunkan untuk siap digunakan.

Ketika bersiap mencampur semen, anggota DPRD tersebut tadi tiba-tiba berteriak mencegah. “Stop! Stop! Semennya cukup. Dua belas pasir untuk satu semen. Ukurannya dikurangi,” perintahnya.

“Lo, biasanya ditambah, Pak?” Pak Dayat menimpali.

“Sekarang dikurangi. Mulai hari ini dan seterusnya. Kayu, besi, semen, semuanya dikurangi. Ini keputusan saya,” dengan nada tinggi anggota DPRD itu mengarahkan.

“Ini bangun gedung, Pak! Kata dokter Liem, membangun gedung adalah perlambang kepribadian. Kalau gedung ini kuat, berarti yang mbangun jiwanya kuat. Kalau gedung ini ringkih, berarti yang mbagun jiwanya juga ringkih.”

Naik pitamlah anggota DPRD itu, “Halah! Filosofi sesat! Sudah turuti saja. Jangan banyak komentar!”

Semua menurut demi gaji tambahan yang dijanjikan. Pembangunan poliklinik pun sudah mencapai delapan puluh persen, sebentar lagi rampung. Naas, ketika berdelapan tukang dan kuli bangunan istirahat di lantai satu, tiba-tiba bangunan ambruk menimpa semuanya. Lik Sigit dan Bulik Sri yang tidak jauh dari tempat kejadian kaget dan segera mendekat, tapi tanpa bisa berbuat apa-apa. Mereka memanggil nama kedelapannya. “Daayaaattt! Waaanttooo! Dooodiiiikkkkkk!” Tak ada sahutan. Diam dalam senyap. Ajal menjelma membayangi.

Lik Sigit segera memberitahu dokter Liem melalui telepon yang dipinjamnya dari Pak Sukarman. Sehari kemudian Dokter Liem mendatangi Lik Sigit dan mantan polikliniknya. “Ehhmm, inilah yang kutakutkan, Lik. Semuanya telah terjadi,” gumam dokter Liem.

“Iya, dokter. Betapa banyak tangisan dan raungan, istri, anak, kerabat, orang tua dan tetangga. Gara-gara takut tidak dapat tambahan, iman tidak kuat, omongan orang mudah didengarkan, pertimbangan hilang, nyawa pun melayang,” Lik Sigit sembilu pilu. Tampak sembab kedua matanya, mengenang kedelapan orang yang dikenal akrab dengannya.

“Ayo Lik Sigit, salat Maghrib dulu,” ajak dokter Liem.

“Mari, dok. Ehh, sebentar ada yang tertinggal,” kata Lik Sigit.

“Apa Lik?”

“Sarung, kopyah, sajadah….”

Temaram sore menjelang dalam ruang tentram. Kemuning barat nampak, matahari mulai redup mengantuk. Manusia pekerja, biasanya akan pulang beristirahat, setelah lelah mencari penghidupan. Beduk maghrib bertalu, Hayya ‘alal falah..Mari menuju kemenangan…

Tinggalkan Balasan