“Masih sekolah?” tanya dokter Liem.
“Iya, masih sekolah. Di SMP Inpres, dok,” jawab anak tersebut.

“Pantas. Ini sakitnya bisa kambuh lagi meski sudah diobati. Kambuh lagi kalau ada PR, ada ulangan, apalagi ulangan dadakan. Tapi, bisa sembuh dengan sendirinya, kok. Tanpa diobati.”
“Obatnya apa dokter?”
“Bukan, bukan obat. Kepala panasnya bisa sembuh ketika gurunya sakit, ada jam kosong, atau nyontek tidak ketahuan, lalu dapat nilai tinggi. Ha-ha-ha….”
Paklik Sigit pernah menanyakan alasan dokter Liem tentang hal itu. “Dokter, kenapa kok setiap memeriksa pasien, dokter selalu ada saja basa-basinya?”
Dokter Liem terkekeh. “Ya, mereka ke sini sudah dengan penyakit. Masak saya tambahi lagi? Ya sesekali selorohan saya ada yang bermakna, ada yang tidak. Tergantung mereka mengerti atau tidak.”
“Apa ada pengaruhnya, dokter? Itu kan penyakit ‘tampak’?” lanjut Paklik Sigit.
“Tergantung, mereka sangat antusias memeriksakan penyakit tampak itu. Sedangkan, ada yang lebih ganas?”
“Lebih ganas? Maksud dokter?”
“Penyakit hati! Iri, dengki, kikir, ambisius, berdusta, ghibah, mau menang sendiri, dan sebagainya.”
“Iya, saya mengerti maksud dokter. Itu kan macam penyakit hati. Tapi, obrolan ringan dokter apakah berpengaruh pada kesembuhan mereka?”
“Tergantung, bisa iya, bisa tidak. Asal mula penyakit semua datang dari lambung. Bukankah dalam Islam kita mengenal halalan thoyyiban. Makan makanan halal dan dari cara mendapatkan yang baik.”
“Waduh, dokter Liem kok ilmu agamanya luas sih?” Paklik Sigit terperangah.
“Ha-ha-ha… bukan masalah luas atau tidak. Tapi, yang sedikit namun dijalankan kiranya lebih bermakna.”
Dokter Liem memang masih belum lama mengenal Islam, sekitar lima tahunan. Seluruh warga desa mengetahuinya. Namun, ketika pembagian zakat atau hibah, dokter Liem dengan halus menolaknya.
“Saya bukan mualaf, saya seorang pemimpin di poliklinik. Mualaf masih harus diyakinkan, sedangkan saya sejahtera dan haqqqul yakin dengan Islam,” begitulah alasan yang diungkapkan dokter Liem.
Tuhan Maha Adil. Selalu memunyai proporsionalitas untuk menyempurnakan. Siang dengan malam, langit dengan bumi, matahari dengan rembulan, lautan dengan daratan. Musuh dan kawan, setia dan selingkuh, pemberani dengan pengecut, begitu aneka rupa warna dunia. Sebaik apa pun manusia, tiada sempurna menjadi barang wajib. Dicela, dihina, dimaki, depan-belakang, bukanlah sesuatu yang aneh.
Kiranya, ketika sesuatu yang dirasakan manusia paling baik terjadi dalam hidupnya, pasti akan datang suatu kejadian yang buruk menanti setelahnya. Begitulah, alam memperingatkan manusia agar tidak terlarut dalam kesenangan dan selalu bersiap mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi di depan.
Kabar “bakti” kemanusiaan dokter Liem di desa, tersiar dan mendapatkan respons dari pemerintah daerah. Suatu hari Dinas Kesehatan meninjau poliklinik dokter Liem. Maka, berdasarkan prestasi dokter Liem dan wujud apresiasi, poliklinik dokter Liem akan dibangun oleh pemda setempat, dua lantai. Tukang dan kuli bangunan diambil dari masyarakat sekitar, bukan dari pemborong. Di sinilah awal kericuhan.
Siang yang teramat terik, tukang dan kuli bangunan yang bekerja membangun poliklinik dokter Liem berkumpul istirahat. “Eh, kamu tahu, kan, pengawas dari proyek ini diketuai langsung oleh dokter Liem?” Pak Dayat mengawali.
Pak Wanto pun menjawab, “Iya, tahu. Memang kenapa, Yat?” tukang dan kuli lain yang terdiri dari tujuh orang lainnya, diam menyimak.
Pak Dayat melanjutkan, “Tadi pagi dokter Liem bilang pada saya, kalau dia sekarang lagi rapat di kabupaten membahas pembangunan Poliklinik ini.”
Pak Dodik penasaran, “La, memang yang dibahas apa, Yat?”
“Saya dengar sendiri dari dokter Liem, karena efek pandemi, berpengaruh juga pada proyek ini. Ada dua pilihan, kalau gaji tidak dikurangi, maka ya jumlah karyawan yang dikurangi,” terang Pak Dayat.
Mereka berdelapan khawatir dan mulai cemas. Karena memang situasi pandemi sekarang, segala macam pekerjaan susah didapat. Hasil tani yang tidak lagi memuaskan, padi yang diserang hama potong leher, jagung yang diserang ulat, harga kayu yang anjlok, melengkapi nasib nestapa desa ini.
