Dramatisasi Cerpen “Umi Kalsum”: Resonansi Budaya Islam

Tergambarkan secara jelas melalui judul-judul cerpen adanya pengangkatan lingkungan Islam yang sangat kental. Cerpen Umi Kalsum menyinggung kebudayaan Islam (Pondok Pesantren, Kyai, Tradisi Mauludan, dan lain-lain), masalah kepercayaan dalam agama, juga kondisi sosial yang sangat terlihat kesenjangan pada pandangan masyarakat. Dari semua hal yang dibahas, yang paling menarik dari cerpen ini adalah adanya romansa atau kisah cinta dari si Djamil (tokoh utama) dan juga tokoh pendukung lainnya.

Bagaimana proses alih wahana naskah drama dari sebuah cerpen?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pertama-tama kami penggarap naskah melakukan pembacaan secara keseluruhan dan melakukan analisis untuk mendapatkan topik besar yang akan dikerucutkan menjadi beberapa sub topik cerita. Dari pembagian topik itu berguna untuk mengetahui berapa adegan yang akan ada dalam naskah.

Kedua, menentukan pesan atau amanat apa yang ingin disampaikan kepada penonton. Dari dramatisasi ini pesan yang ingin kami sampaikan kepada penonton adalah “Janganlah merasa diri lebih tinggi sehingga merendahkan orang lain, hanya karena memiliki harta yang berlimpah. Sesungguhnya tinggi rendahnya seorang tidak dinilai dari banyaknya harta.”

Ketiga, menentukan bagian cerpen yang ingin diambil. Cerpen yang diambil untuk dramatisasi ada dua, yakni cerpen berjudul Umi Kalsum dan Malam Mauludan. Setelah itu menentukan berapa banyak adegan yang diinginkan, juga tokoh-tokoh yang akan berperan. Ada 6 adegan dengan 42 orang yang dibagi menjadi beberapa pemeran, yakni Umi Kalsum, Djamil, Amran, Fatimah, Zainab, Latifah, Santriwati, Kyai Syafi’i, Ustadzah, H. Basuni, Anak Kecil, Masyarakat Desa, Pak RT, Mbok, Penjual Bazar, Penjual Sayur, Ibu-Ibu Pembeli Sayur.

Tinggalkan Balasan