Di Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Musthofa, Ngeboran, Boyolali, Jawa Tengah, hidup terbagi menjadi dua wajah. Pagi hingga sore, kami menjadi mahasiswa. Berpacu dengan waktu, tugas kuliah, organisasi kampus, dan skripsi yang mendekat tak kenal kompromi.
Di suatu malam yang tenang, ketika kebanyakan pemuda sedang sibuk di tongkrongan dan juga larut dalam mimpi, kami di pondok justru terjaga. Duduk bersila, kepala tertunduk, tangan memutar tasbih, bibir begetar pelan membaca zikir dari aurod Nihadlul Mustagfirin. Di situlah mujahadah bermula— sebuah laku sunyi yang perlahan membuka tabir kehidupan.

Awalnya, semua tampak biasa. Sebuah rutinitas yang ada di Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Musthofa, satu demi satu pun harus dijalani. Salah satunya adalah mujahadah.
Tapi, semakin lama, semakin dalam kita menyelami zikir itu, rasanya ada sesuatu yang bergeser di dalam diri. Ada semacam ruang yang tadinya gelap, kini pelan-pelan mulai bercahaya.
Bagi Sebagian orang, ini mungkin hanya rangkaian doa dan wirid biasa. Tapi bagi kami, mujahadah adalah napas. Sumber energi yang membuat kami tetap kuat di tengah hidup yang tak henti menekan dari berbagai arah.
