Mujahadah jadi semacam cermin, tempat kita melihat luka, takut, dan harapan kita sendiri, lalu datang pelan-pelan menyembuhkannya.
Mujahadah mengajarkan kami bahwa tidak semua hal harus dilawan dengan logika. Ada saatnya hati mengambil peran. Bukan hanya menggantikan akal, tapi untuk menuntunnya kembali ke jalur yang jernih.

Kami sadar, menjadi mahasiswa saja sudah berat. Menjadi santri pun bukan perkara ringan. Dan menjadi keduanya sekaligus adalah jalan terjal yang tak semua orang mampu jalani. Tapi justru di jalan terjal itulah kami menemukan keindahan yang tidak semua orang memilikinya.
Mujahadah adalah bentuk lain dari perjuangan. Ia tidak tampak bising. Tidak penuh gemuruh. Tapi justru karena ia sunyi, ia masuk lebih dalam. Langsung ke inti persoalan hati yang resah dan jiwa yang kering. Sering terlontar pertanyaan, “Kapan kalian istirahat?” Istirahat kami bukan di tidur panjang, tapi di ketenangan yang mujahadah berikan.
Kami para santri yang ada di Pondok Pesantren Al-Musthofa juga bukan manusia yang sempurna. Kami juga sering goyah, malas, bahkan ingin menyerah. Tapi mujahadah selalu datang seperti alam ruhani. Mengingatkan kami bahwa menyerah bukan pilihan, selama Allah masih membersamai kita. Sekarang kami percaya, bahwa dalam setiap perjuangan ada celah untuk berdoa. Dan dalam setiap doa, selalu ada peluang untuk menemukan kekuatan baru.
