Dua Wajah Santri

Capai? Tentu saja. Sedikit demi sedikit raga kami lelah, pikiran sesak. Kadang seperti lilin yng menyala di dua ujung, satu terbakar oleh urusan dunia, satu lagi terbakar oleh kewajiban akhirat. Namun di tengah kelelahan itu, justru kami menemukan sesuatu yang tak kami duga. Mujahadah bukanlah tambahan beban. Ia justru menjadi jendela. Dari balik zikir-zikir itu, kami melihat cahaya kecil yang menuntun langkah kami melewati gelapnya problem hidup.

Entah bagaimana cara kerjanya. Tapi ketika beban skripsi terasa menyesakkan, saat ide mentok dan semangat luntur, kami datang untuk mujahadah, dengan duduk, diam, menangis diam-diam. Dan esok harinya seolah semesta membuka jalan. Ada solusi dan ada arah. Bukan karena kami mendadak pintar, bukan karena semua jadi lebih mudah. Tapi karena hati kami jadi lebih tenang, lebih lapang. Dan dari ketenangan itulah biasanya muncul kekuatan untuk terus melangkah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mujahadah bukan sekadar duduk diam dan membaca doa. Ia adalah pertempuran senyap antara diri dan segala keinginan yang membelenggu. Setiap bacaan bukan hanya lafaz yang melintas di mulut, tapi seperti palu yang menggodam kerak ego dan kesombongan yang lama mengendap.

Mujahadah merupakan sebuah kesungguhan untuk bertahan. Misalnya menahan distraksi, menahan godaan ingin cepat viral, menahan diri terus-menerus menyerap tanpa mengedepankan sesuatu. Ia buka sekadar ibadah lahiriah, melainkan untuk tetap teguh menempuh jalan Tuhan— di medan yang tak selalu sakral.

Dan anehnya, dari duduk diam muncullah sebuah gerakan. Dari sunyi itu muncullah suara. Dan dari mujahadah itu muncullah sebuah jalan yang mungkin belum pernah sama sekali kita lihat. Dari sini mulai terlihat, bahwa hidup itu tidak selalu soal mencari solusi di luar. Terkadang, jawaban itu sembunyi di dalam—di balik hati yang mungkin tidak pernah diajak bicara dengan jujur.

Tinggalkan Balasan