Saya akhirnya “terselamatkan”, Bang Fachry berhenti “mengorek-ngorek” ketika Kang Zastrouw muncul, lalu disusul sastrawan Jamal D. Rahman dan istri, Mahwi Air Tawar, Halim Pohan, dan Beni Satria. Kami kemudian makan malam bersama, ditingkahi percakapan random, disusul melahap durian yang dibawa Halim Pohan.
Sejujurnya, silaturahmi kami memang untuk menyerap keluasan pengetahuan dan ketajaman analisis Bang Fachry, salah satu intelektual par excellence yang dimiliki Indonesia, dari generasi yang sudah sulit ditemukan di negeri ini. Pengetahuan dan analisis yang harus segera ditularkan ke komunitas jejaring duniasantri.

Percakapan begitu gayeng, merambah berbagai bidang pengetahuan dari masa yang paling dini hingga isu-isu sensitif hari ini, tentu dilengkapi dengan cara pandang seorang intelektual, seorang peneliti. Tapi tak jarang dijeda dengan bertukar humor yang membuat tawa kami meledak-ledak, bersaing dengan suara petasan Agustusan di gang seberang.
Semakin malam kian hangat percakapan kami. Tapi Bang Fachry menawarkan “time out”: melihat ruang perpustakaan pribadinya. Kami akhirnya bergeser ke bangunan samping, menaiki tangga menuju lantai dua. Di sana, Bang Fachry menyimpan kekayaan intelektualnya.
Di perpustakaan itu tersimpan sedikitnya 25 ribu buku dan dokumen dari berbagai masa, dari berbagai negara, dalam berbagai bahasa. Yang menarik, sesekali Bang Fachry dengan telaten menjelaskan sejarah buku-buku tertentu: didapat atau dibeli di mana dan intisari muatan buku-buku tersebut.
Nanti, jika saatnya tiba, Bang Fachry sudah siap menghibahkan perpustakaannya tersebut ke salah satu lembaga pendidikan tinggi. “Ya, saya sudah setuju, biar nanti ada yang merawat perpustakaan ini untuk kepentingan ilmu pengetahuan,” katanya.
Setelah hampir satu jam, kami turun, kembali ke ruang pertemuan. “Nah, sekarang kita mau ngobrol apa ini,” kata Bang Fachry membuka obrolan sesi kedua.
Kami akhirnya mengobrolkan dinamika literasi komunitas jejaring duniasantri. Kang Zastrouw menjelaskan bahwa, melalui situs web duniasantri.co, tergambar bagaimana fenomena kaum santri bertransformasi ke dunia digital. Termasuk, munculnya generasi-generasi baru penulis dari kalangan santri.
