Malam yang terasa panjang, jika dilihat dari apa yang terceritakan. Sekaligus, malam yang terasa singkat jika teringat begitu banyak yang masih hendak diceritakan.
Itulah yang terasa ketika Jumat (14/8/2026) malam beberapa pengurus jejaring duniasantri (JDS) berkunjung ke kediaman Bang Fachry Ali, intelektual muslim par excellence, di bilangan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Kami janjian silaturahmi pukul 19.00 WIB. Dan, ketika akhirnya kami berpamitan, jam di dinding menunjuk waktu: 00.30. Tak terasa sudah berganti hari.


Saya yang tiba paling awal, sepertinya persis pukul 19.00. Dan semuanya sudah siap. Dari depan pintu ruangan pertemuan, Bang Fachry sudah menunggu tetamunya. Bang Fachry duduk menghadap pintu, persis di tengah meja panjang.
Di meja sepanjang 5-6 meter itu, terhidang aneka penganan. Ada kacang goreng dan kacang rebus. Juga pisang goreng. Di salah satu pojok ruangan, di atas dua meja kecil, terhidang dua mesin penanak. Satu untuk nasi biasa, dan lainnya berisi nasi liwet. Ada ayam goreng lengkap dengan sayur dan sambal yang membuat lidah ngiler.
Di pojok ruang yang lain, dekat pintu masuk, di sebuah meja, disiapkan gelas-gelas, teko pemanas air, dan kopi dan teh, lengkap dengan asbak yang yang tersusun. Tentu saja di ruangan itu ada lemari besar untuk menyimpan sebagian kecil dari puluhan ribu buku koleksi tuan rumah.
Bang Fachry sendirian menunggu tetamunya, hanya ditemani tiga bungkus rokok beda merek, dan asbak yang masih bersih. Saya beruluk salam, bersalaman, dan duduk persis di hadapannya. Saya sudah tiga kali bertemu langsung dengannya. Tapi baru kali ini sedekat ini, dan empat mata.
Di usianya yang sudah 72 tahun, nalurinya sebagai peneliti tak pernah silam. Mungkin mumpung yang lain belum tiba, saya “dikorek” habis-habisan: mulai dari asal kampung halaman, pendidikan, hingga latar lahirnya jejaring duniasantri. Berkali-kali Bang Fachry menjeda, “terus ke PBNU?”–jedaan yang nantinya akan jadi bahan candaan: “Konspirasi Menjelang Muktamar”.
Saya akhirnya “terselamatkan”, Bang Fachry berhenti “mengorek-ngorek” ketika Kang Zastrouw muncul, lalu disusul sastrawan Jamal D. Rahman dan istri, Mahwi Air Tawar, Halim Pohan, dan Beni Satria. Kami kemudian makan malam bersama, ditingkahi percakapan random, disusul melahap durian yang dibawa Halim Pohan.
Sejujurnya, silaturahmi kami memang untuk menyerap keluasan pengetahuan dan ketajaman analisis Bang Fachry, salah satu intelektual par excellence yang dimiliki Indonesia, dari generasi yang sudah sulit ditemukan di negeri ini. Pengetahuan dan analisis yang harus segera ditularkan ke komunitas jejaring duniasantri.
Percakapan begitu gayeng, merambah berbagai bidang pengetahuan dari masa yang paling dini hingga isu-isu sensitif hari ini, tentu dilengkapi dengan cara pandang seorang intelektual, seorang peneliti. Tapi tak jarang dijeda dengan bertukar humor yang membuat tawa kami meledak-ledak, bersaing dengan suara petasan Agustusan di gang seberang.
Semakin malam kian hangat percakapan kami. Tapi Bang Fachry menawarkan “time out”: melihat ruang perpustakaan pribadinya. Kami akhirnya bergeser ke bangunan samping, menaiki tangga menuju lantai dua. Di sana, Bang Fachry menyimpan kekayaan intelektualnya.
Di perpustakaan itu tersimpan sedikitnya 25 ribu buku dan dokumen dari berbagai masa, dari berbagai negara, dalam berbagai bahasa. Yang menarik, sesekali Bang Fachry dengan telaten menjelaskan sejarah buku-buku tertentu: didapat atau dibeli di mana dan intisari muatan buku-buku tersebut.
Nanti, jika saatnya tiba, Bang Fachry sudah siap menghibahkan perpustakaannya tersebut ke salah satu lembaga pendidikan tinggi. “Ya, saya sudah setuju, biar nanti ada yang merawat perpustakaan ini untuk kepentingan ilmu pengetahuan,” katanya.
Setelah hampir satu jam, kami turun, kembali ke ruang pertemuan. “Nah, sekarang kita mau ngobrol apa ini,” kata Bang Fachry membuka obrolan sesi kedua.
Kami akhirnya mengobrolkan dinamika literasi komunitas jejaring duniasantri. Kang Zastrouw menjelaskan bahwa, melalui situs web duniasantri.co, tergambar bagaimana fenomena kaum santri bertransformasi ke dunia digital. Termasuk, munculnya generasi-generasi baru penulis dari kalangan santri.
Hal yang sama juga diungkapkan Kang Jamal. “Ini akan menandai era baru generasi penulis santri, dari tradisional ke modern,” kata sastrawan asal Madura, yang pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Sastra Horison, ini.
Bang Fachry melihatnya sebagai gejala yang menarik untuk dianalisis lebih dalam, lebih tajam. Bang Fachry juga melihat, kaum santri, kaum Nahdliyyin, telah berkembang menjadi kekuatan yang paling berpengaruh di Indonesia, baik di bidang intelektual maupun politik.
“Sebelum dirusak rezim penguasa selama dekade terakhir ini,” ungkapnya, disambut tawa kami.
Bang Fachry kemudian membuka-buka dokumen yang kami siapkan: “Analisis Korpus 5000 Tulisan Santri”. Mei lalu, duniasantri.co memang telah merilis 5000 tulisan santri. Itulah yang rencananya akan kami seminarkan pada akhir September nanti, sebagai bagian dari Festival Dunia Santri 2026. Dan, kami bermaksud mengundang Bang Fachry sebagai narasumber, untuk membedah alam pikiran santri berdasarkan Korpus 5000 tulisan santri tersebut.
Alhamdulillah, Bang Fachry berkenan memenuhi undangan tersebut. Akan sangat menarik mengikuti analisisnya terhadap perkembangan intelektual kaum santri nanti. Saya sendiri tak sabar menunggu.
Bang Fachry memang jago menyenangkan tetamunya. Ketika di antara kami sudah menunjukkan bahasa tubuh hendat pamitan, lelaki Aceh ini malah bernyanyi. Nyanyian yang pernah diajarkan gurunya ketika SD, dilengkapi dengan cerita lucunya. Lalu beralih ke selawat Asygil dan lir Ilir. Dan minta direkam video.
“Nanti akan saya unggah di medsos, biar dikira sedang ada pertemuan konspirasi menjelang Muktamar NU, ha-ha-ha,” kami semua tertawa.
Kami akhirnya juga janjian untuk bersama-sama di arena Muktamar NU di Jombang 27-31 Agustus nanti, sembari mempersiapkan agenda Seminar Korpus 5000 Tulisan Santri akhir September. Ini berarti akan menjadi yang kedua kalinya Bang Fachry hadir di acara duniasantri. Sebelumnya, pada 2021, Bang Fachry menjadi narasumber bedah buku “Negara Rasional” karya Dr Abdul Aziz. Ini artinya, duniasantri dan Bang Fachry Ali menjadi semakin akrab.
Malam itu terasa singkat ketika Bang Fachry melepas kami pulang. Sebab, banyak hal yang belum tuntas didiskusikan. Semoga masih banyak kesempatan untuk pertemuan dan percakapan yang mencerdaskan.
